PERATURAN PENCEGAHAN TUBRUKAN di LAUT Thn 1972 Amandemen 1981, 1987, 1989, 1993 dan 2001 Bagian D dan Bagian E

 

Isyarat Bunyi dan Isyarat Cahaya
Aturan 32
Definisi
(A) kata “suling” berarti setiap alat isyarat bunyi yang dapat menghasilkan tiupan-tiupan yang ditentukan dan yang memenuhi perncian-perincian di dalam lampiran 3 peraturan-peraturan ini.
(B) Istilah ” Tiup Pendek ” berarti tiupan yang lamanya kira-kira satu detik.
(C) Istilah ” Tiup Panjang ” berarti tiupan yang lamanya empat sampai dengan enam detik.
Aturan 33
Perlengkapan untuk isyarat bunyi
(A) Kapal yang panjangnya 12 meter atau lebih harus dilengkapi dengan suling, kapal yang panjangnya 20 meter atau lebih sebagai tambahan suling harus di lengkapi sebuah genta dan kapal yang panjangnya 100 meter atau lebih sebagai tambahan harus di lengkapi dengan sebuah gong yang bunyinya tidak dapat di kacaukan dengan nada dan bunyi genta. Suling, genta dan gong harus memenuhi perincian-perincian didalam lampiran III peraturan ini, genta atau gong atau kedua-dua nya boleh digantikan dengan perlengkapan lain yang mempunyai sifat-sifat khas yang sama , dengan ketentuan harus selalu memungkinkan di bunyikan dengan tangan.
(B) Kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter tidak wajib memasang alat-alat isyarat bunyi yang ditentukan di dalam paragraf (a) aturan ini, tetapi jika tidak memasangnya , kapal itu harus dilengkapi dengan beberapa sarana lain yang menghasilkan isyarat bunyi yang efisien.
Aturan 34
Isyarat olah gerak dan isyarat peringatan
(A) Bilamana kapal-kapal dalam keadaan saling melihat, kapal tenaga yang sedang berlayar bilamana sedang berolah gerak sesuai yang diharuskan atau dibolehkan atau diisyaratkan oleh aturan-aturan ini harus menunjukkan olah gerak tersebut dengan isyarat-isyarat berikut dengan menggunakan suling nya :
– Satu tiupan pendek berarti “Saya mengubah haluan saya ke kanan”.
– Dua tiupan pendek berarti “Aku mengubah haluan saya ke kiri”.
– Tiga tiupan pendek berarti “Saya sedang menjalankan mundur mesin penggerak”.
(B) Setiap kapal boleh menambahi isyarat-isyarat suling yang ditentukan di dalam paragraf (a) aturan ini, dengan isyarat cahaya di ulang-ulang seperlunya , sementara olah gerak sedang di lakukan :
(I) Isyarat-siyarat cahaya ini harus mempunyai arti berikut :
 – Satu kedipan berarti “Saya mengubah haluan saya ke kanan”
– Dua kedipan berarti “Saya mengubah haluan saya ke kiri”.
– Tiga kedipan berarti “Saya sedang menjalankan mundur mesin penggerak”.
(Ii) Lamanya masing-masing kedipan harus kira-kira satu detik , selang waktu antara kedip-kedip itu harus kira-kira satu detik , serta selang waktu antara isyarat-isyarat berurutan tidak boleh kurang dari 10 detik.
 (Iii) Lampu yang digunakan untuk isyarat ini, jika dipasang harus lampu putih keliling, dapat kelihatan dari jarak minimal 5 mil dan harus memenuhi ketentuan-ketentuan lampiran I peraturan ini.
(C) Bila dalam keadaan saling melihat dalam alur pelayaran sempit :
(I) Kapal yang sedang bermaksud menyusul kapal lain, sesuai dengan aturan 9 (e)(i), harus menyatakan maksudnya itu dengan isyarat berikut dengan sulingnya :
– Dua tiup panjang di ikuti dengan satu tiup pendek untuk menyatakan ” saya bermaksud menyusul anda di sisi kanan anda “.
– Dua tiup panjang di ikuti dua tiup pendek untuk menyatakan ” saya bermaksud menyusul anda di sisi kiri anda “.
(ii) Kapal yang sedang disusul itu bilamana sedang melakukan tindakan sesuai dengan aturan 9(e)(i), harus menyatakan persetujuannya dengan isyarat-isyarat dengan sulingnya.
(D) Bilamana kapal-kapal yang dalam keadaan saling melihat sedang saling mendekat dan karena suatu sebab, apakah salah satu dari kapal-kapal itu atau keduanya tidak berhasil memahami maksud-maksud atau tindakan-tindakan kapal yang lain, atau dalam keadaan ragu-ragu apakah kapal yang lain sedang melakukan tindakan yang memadai untuk menghindari tubrukan, kapal yang dalam keadaan ragu-ragu itu harus segera menyatakan keragu-raguannya dengan memperdengarkan sekurang-kurangnya 5 tiup pendek dan cepat dengan suling . Isyarat demikian boleh ditambahkan dengan isyarat cahaya yang sekurang-kurangnya terdiri dari 5 kedip pendek dan cepat.
(E) Kapal yang sedang mendekati tikungan atau daerah alur pelayaran yang ditempat itu kapal-kapal lain dapat terhalang oleh alingan, harus memperdengarkan satu tiup panjang. Isyarat demikian itu harus di sambut dengan tiup panjang oleh setiap kapal yang mendekat yang sekiranya ada di dalam jarak dengar di sekitar tikungan atau di balik alingan itu.
(F) Jika suling-suling dipasang di kapal secara terpisah dengan jarak lebih dari 100 meter , hanya satu suling saja yang harus di gunakan untuk memberikan isyarat olah gerak dan isyarat peringatan.
Aturan 35
Isyarat Bunyi dalam Penglihatan Terbatas
Di dalam atau di dekat daerah yang penglihatan terbatas baik pada siang hari atau malam hari, isyarat-isyarat yang ditentukan di dalam aturan ini harus digunakan sebagai berikut :
(A) Kapal tenaga yang mempunyai laju di air memperdengarkan satu tiup panjang dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.
(B) Kapal tenaga yang sedang berlayar tetapi berhenti dan tidak mempunyai laju di air harus memperdengarkan dua tiup panjang beruntun dengan selang waktu tiup-tiup panjang itu kira-kira 2 detik.
(C) Kapal yang tidak terkendali, kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas, kapal yang terkendala oleh saratnya, kapal layar, kapal yang sedang menangkap ikan, dan kapal yang sedang menunda atau mendorong kapal lain, sebagai pengganti isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragraf (a) atau (b) aturan ini harus memperdengarkan tiga tiup beruntun , yakni satu tiup panjang di ikuti oleh dua tiup pendek dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.
(D) Kapal yang sedang menangkap ikan bilamana berlabuh jangkar dan kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas bilamana sedang menjalankan pekerjaannya dalam keadaan berlabuh jangkar sebagai pengganti isyarat-isyarat yang di tentukan di dalam paragraf (g) aturan ini, harus memperdengarkan isyarat yang ditentukan didalam paragraf (c) aturan ini.
(E) Kapal yang ditunda atau jika kapal ditunda itu lebih dari satu, maka kapal yang paling belakang dari tundaan itu jika diawaki harus memperdengarkan 4 tiup beruntun , yakni satu tiup panjang di ikuti tiga tiup pendek , dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit. Bilamana mungkin isyarat ini harus diperdengarkan segera setelah isyarat yang di perdengarkan oleh kapal yang menunda.
(F) Bilamana kapal yang sedang mendorong dan kapal yang sedang didorong maju di ikuti etar-erat dalam kesatuan gabungan , kapal-kapal itu harus memperdengarkan isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragraf (a) atau (b) aturan ini.
(G) Kapal yang sedang berlabuh jangkar harus membunyikan genta dengan cepat selama kira-kira 5 detik dengan selang waktu tidak lebih dari 1 menit . Dikapal yang panjangnya 100 meter atau lebih genta itu harus dibunyikan di bagian depan kapal dan segera setelah pembunyian genta , gong harus dibunyikan cepat-cepat selama kira-kira 5 detik di bagian belakang kapal . Kapal yang berlabuh jangkar sebagai tambahan boleh memperdengarkan 3 tiup beruntun , yakni satu tiup pendek untuk mengingatkan kapal lain yang mendekat mengenai kedudukannya dan adanya kemungkinan tubrukan.
(H) Kapal yang kandas harus memperdengarkan isyarat genta dan jika dipersyaratkan isyarat gong yang di tentukan di dalam paragraf (g) aturan ini dengan jelas, dengan genta sesaat sebelum dan segera setelah pembunyian genta yang cepat itu. Kapal yang kandas sebagai tambahan boleh memperdengarkan isyarat suling yang sesuai.
(I) Kapal yang panjangnya 12 meter atau lebih tetapi kurang dari 20 meter, tidak wajib memperdengarkan isyarat-isyarat genta sebagaimana yang dirincikan pada paragraf (g) dan (h) dari aturan ini, tetapi jika tidak memperdengarkannya , kapal itu harus memperdengarkan isyarat bunyi lain yang efisien dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.
(J) Kapal yang panjang nya kurang dari 12 meter tidak wajib memperdengarkan isyarat sebagaimana yang disebutkan diatas , tetapi jika tidak memperdengarkannya kapal itu harus memperdengarkan isyarat bunyi lain yang efisien dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.
(K) Kapal Pandu yang sedang bertugas memandu kapal pandu bilamana sedang bertugas memandu sebagai tambahan atas isyarat-isyarat yang ditentukan di dalam paragraf (a), (b) dan (g) aturan ini boleh memperdengarkan isyarat pengenal yang terdiri dari 4 tiup pendek.
Aturan 36
Isyarat untuk menarik perhatian
Jika perlu untuk menarik perhatian kapal lain, setiap kapal boleh menggunakan isyarat cahaya atau isyarat bunyi yang tidak dapat terkelirukan dengan setiap isyarat diharuskan atau yang dibenarkan dimanapun di dalam aturan-aturan ini atau boleh mengarahkan berkas cahaya lampu sorotnya ke jurusan manapun. Sembarang cahaya yang digunakan untuk menarik perhatian kapal lain harus demikian rupa sehingga tidak dapat terkelirukan dengan alat bantu navigasi apapun. Untuk memenuhi maksud aturan ini penggunaan penerang berselang-selang atau penerangan berputar dengan intensitas tinggi, misalnya penerangan-penerangan Stroba harus dihindari.
Aturan 37
Isyarat Bahaya
Bilamana kapal dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan, kapal itu harus menggunakan atau memperlihatkan isyarat-isyarat yang ditentukan di dalam lampiran IV peraturan ini.
BAGIAN E
Pembebasan-pembebasan
Aturan 38
Pembebasan
Setiap kapal ( atau kelas kapal-kapal ) dengan ketentuan bahwa kapal itu memenuhi syarat-syarat Peraturan Internasional tentang Pencegahan Tubrukan di Laut , 1960, yang luasnya diletakkan sebelum peraturan ini mulai berlaku atau yang pada tanggal itu dalam tahapan pembangunan yang sesuai, dibebaskan dari kewajiban untuk memenuhi peraturan ini sebagai berikut :
(A) Pemasangan lampu-lampu dengan jarak yang ditentukan didalam aturan 22 , sampai 4 tahun setelah tanggal mulai berlakunya peraturan ini.
(B) Pemasangan lampu-lampu dengan perncian warna sebagaimana yang ditentukan di dalam seksi 7 lampiran I peraturan ini, sampai 4 tahun setelah tanggal mulai berlakunya peraturan ini.
(C) Penempatan kembali lampu-lampu sebagai akibat dari pengubahan satuan-satuan imperial ke satuan-satuan metrik dan pembulatan-pembulatan angka-angka ukuran, merupakan pembebasan tetap.
(D) (i) Penempatan kembali lampu-lampu tiang di kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 150 meter , sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan seksi 3 (a) lampiran I peraturan ini, merupakan pembebasan tetap.
(Ii) Penempatan kembali lampu-lampu tiang di kapal-kapal yang panjangnya 150 meter atau lebih, sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan seksi 3 (a) lampiran I peraturan ini, sampai sembilan tahun setelah tanggal mulai berlakunya peraturan ini.
(E) Penempatan kembali lampu-lampu tiang sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan seksi 2 (b) lampiran I peraturan ini.
(F) Penempatan kembali lampu-lampu lambung sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan seksi 2 (g) dan 3 (b) lampiran I peraturan ini, sampai sembilan tahun setelah tanggal mulai berlakunya peraturan ini.
(G) Syarat-syarat tentang alat-alat isyarat bunyi yang ditentukan di dalam lampiran III peraturan ini, sampai sembilan tahun setelah tanggal mulai berlakunya peraturan ini.
(H) Penempatan kembali lampu-lampu keliling, sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan seksi 9(b) lampiran I peraturan ini merupakan pembebasan tetap.
By catatandedi

100 LANGKAH MENUJU KESEMPURNAAN IMAN

taruna STP saat sholat berjama’ah d atas kapal MADIDIHANG 03.

100 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman

01. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
02. Sabar apabila mendapat kesulitan;
03. Tawakal apabila mempunyai rencana/program;
04. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
05. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;
06. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
07. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
08. Jangan usil dengan kekayaan orang;
09. Jangan hasud dan iri atas kesuksesan orang;
10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksesan;
11. Jangan tamak kepada harta;
12. Jangan terlalu ambisius akan sesuatu kedudukan;
13. Jangan hancur karena kezaliman;
14. Jangan goyah karena fitnah;
15. Jangan berkeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri;
16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram;
17. Jangan sakiti ayah dan ibu;
18. Jangan usir orang yang meminta-minta;
19. Jangan sakiti anak yatim;
20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar;
21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil;
22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);
23. Lakukan solat dengan ikhlas dan khusyu;
24. Lakukan solat fardhu di awal waktu, berjamaah dan di masjid;
25. Biasakan solat malam;
26. Perbanyak dzikir dan do’a kepada Allah;
27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;
28. Sayangi dan santuni fakir miskin;
29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah;
30. Jangan marah berlebih-lebihan;
31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan;
32. Bersatulah kerana Allah dan berpisahlah kerana Allah;
33. Berlatihlah konsentrasi fikiran;
34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila kerana sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi;
35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syaitan;
36. Jangan percaya ramalan manusia;
37. Jangan terlampau takut miskin;
38. Hormatilah setiap orang;
39. Jangan terlampau takut kepada manusia;
40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala;
41. Bersihkan harta dari hak-hak orang lain;
42. Berlakulah adil dalam segala urusan;
43. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah;
44. Bersihkan rumah dari patung-patung berhala;
45. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran;
46. Perbanyak silaturahim;
47. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;
48. Bicaralah secukupnya;
49. Beristeri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya;
50. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu;
51. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur;
52. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit batin;
53. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga;
54. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan;
55. Hormatilah kepada guru dan ulama;
56. Sering-sering bershalawat kepada nabi;
57. Cintai keluarga Nabi saw;
58. Jangan terlalu banyak hutang;
59. Jangan terlampau mudah berjanji;
60. Selalu ingat akan saat kematian dan sedar bahawa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara;
61. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti bersembang pada perkara yang tidak berguna;
62. Bergaullah dengan orang-orang soleh;
63. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar;
64. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu;
65. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita;
66. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi;
67. Jangan membenci seseorang kerana fahaman dan pendirian;
68. Jangan benci kepada orang yang membenci kita;
69. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuatu pilihan;
70. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapat kesulitan;
71. Jangan melukai hati orang lain;
72. Jangan membiasakan berkata dusta;
73. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian;
74. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab;
75. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan;
76. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita;
77. Jangan membuka aib orang lain;
78. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih
berprestasi dari kita;
79. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana;
80. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan;
81. Jangan merendah diri kerana miskin dan jangan sombong kerana kaya;
82. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara;
83. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain;
84. Jangan membuat orang lain menderita dan sengsara;
85. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa;
86. Hargai prestasi dan pemberian orang;
87. Jangan habiskan waktu untuk sekadar hiburan dan kesenangan;
88. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan;
89. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita;
90. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fizik atau mental kita menjadi terganggu;
91. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana;
92. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita;
93. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu,dan jangan berkata sesuatu yang dapat  menyebabkan orang lain terhina;
94. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita, sebelum dipastikan kebenarannya;
95. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban;
96. Sambutlah uluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan;
97. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang di luar kemampuan diri;
98. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tentangan.Jangan lari dari kenyataan kehidupan;
99. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan kerusakan;
100. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang;
By catatandedi

SONAR ( sekolah tinggi perikanan )

SONAR

  1. Pengertian Sonar

Sonar (Sound Navigation and Ranging) adalah suatu teknik yang menggunakan penyebaran bunyi (biasanya di dalam air) untuk navagasi, berkomunikasi atau mendeteksi kapal – kapal lainnya. Ada dua macam sonar: Pasif dan aktif. Sonar mungkin  digunakan sebagai alat pengalokasian akustik. Pengalokasian ilmu suara/akustik pada udara telah digunakan sebelum pengenalan tentang radar. Sonar mungkin juga digunakan di udara untuk navidasi robot, dan SODAR (sonar udara untuk melihat keatas) digunakan untuk investigasi atmosfer. Istilah sonar juga digunakan sebagai yang digunakan untuk menghasilkan dan menerima bunyi. Frekwensi yang digunkan dalam sistem sonar  rentang dari infrasonik ke ultrasonik. Studi tentang bunyi sonar; di dalam air dikenal sebagai akustik dalam air atau hydroacoustics.

  1. Sejarah Sonar

Walaupun beberapa binatang ( dolfin dan kelelawar) yang telah menggunakan bunyi untuk komunikasi dan pendeteksian obyek selama berjuta-juta tahun, penggunaan oleh manusia dalam air pada awalnya direkam oleh Leonardo Da Vinci di tahun 1490 yaitu “sebuah tabung dimasukkan ke dalam air” katanya, digunakan untuk mendeteksi kapal dengan menempelkan telinga ke tabung.

Di abad yang ke -19 bel di dalam air telah digunakan sebagai suatu pengirim signal ke mercu suar untuk memberikan peringatkan bahaya.

Penggunaan bunyi pada ‘ lokasi gema’ dalam air sama halnya cara kelelawar menggunakan bunyi untuk antena navigasi yang nampak seperti dibisikan oleh bencana titanik 1912. Hak paten dunia pertama untuk suatu alat penjangka gema di dalam air telah disimpan di Kantor Pemberi Hak Paten Britania dengan Ahli ilmu cuaca Bangsa Inggris Lewis Richardson, satu bulan setelah tenggelamnya  titanik, dan Ahli ilmu fisika Jerman Alexander Behm memperoleh hak paten untuk suatu alat penduga gema di 1913. Suku Kanada Reginald Fessenden, ketika bekerja untuk Perusahaan Signal Kapal selam di Boston, membangun suatu sistem percobaan di Pelabuhan Boston ang dimulai di tahun 1912, sebuah sistem yang kemudian diuji di Pelabuhan Boston, dan akhiri di tahun 1914 dari  U.S. Revenue ( sekarang Penjaga Pantai) Tukang potong pakaian Miami pada Bank Agung berhenti di Newfoundland Canada. Di dalam pengujian, Fessenden mempertunjukkan pengukuran gema kepada departement,yaitu komunikasi di dalam air ( Kode Kode morse) dan penjangka gemaan yang (dideteksi suatu gunung es terapung pada dua miles ( 3 km) cakupan). Yang disebut Fessenden Osilator, pada ca. 500 Hz Frekwensi, adalah tidak mampu untuk menentukan penegasan sikap untuk berg dalam kaitan dengan yang 3 meter panjang gelombang dan dimensi yang kecil transducer’s menyebar ke muka ( kurang dari 1 meter di (dalam) garis tengah). Yang Sepuluh Montreal-built Yang Britania H kapal selam kelas meluncurkan 1915 adalah dilengkapi dengan suatu Fessenden Oscillator.[1]

Selama Perang Dunia kebutuhan untuk mendeteksi kapal selam  lebih cenderung  dalam meriset penggunaan bunyi. Yang Britania buat awal penggunaan hidrofon di dalam air, ketika Ahli ilmu fisika Perancis Paul Langevin, bekerjasama dengan Orang Rusia é Migré Ahli listrik, Constantin Chilowski, bekerja pada pengembangan alat bunyi;selalu aktip untuk mendeteksi kapal selam di tahun 1915 menggunakan kwarsa. Walaupun transduzer piezoelectric dan magnetostrictive, kemudian menggantikan transduser elektrostatik yang mereka gunakan, pekerjaan ini mempengaruhi disain ke depan. Cahaya berat yang berbunyi pada plastik film dan serat optic yang telah digunakan untuk hidrofon ( perpindahan alat elektrik ang dipakai selama di air), ketika Terfenol-D Dan PMN ( petunjuk laju awal magnesium niobate) telah dikembangkan untuk proyektor. Gabungan Piezoelectric Material tersedia dari beberapa pabrik termasuk Morgan Keramik Elektro.

  1. ASDIC

Di 1916, di bawah Dewan Penemuan Dan Riset Britania, Ahli ilmu fisika Kanada Robert William Boyle menerima pendeteksi bunyi yang aktip dirancang dengan kayu A B, memproduksi suatu prototipe untuk menguji mid-1917. Pekerjaan ini, untuk Anti-Submarine Divisi, dijaga kerahasiaannya, dan menggunakan hablur piezoelektrik kwarsa untuk menghasilkan piranti pendeteksian bunyi dalam air pertama di dunia yang praktis. Untuk memelihara kerahasiaan percobaan bunyi tersebut, penelitian atau kwarsa telah dibuat- sesuatu yang digunakan untuk menguraikan pekerjaan (‘ supersonik’) telah diubah untuk ‘ ASD’ICS, dan material kwarsa ‘ ASD’IVITE. Dari ini datang Singkatan yang Britania ASDIC. Di 1939, sebagai jawaban atas suatu pertanyaan dari Kamus Bahasa Inggris Sepatu, Markas besar angkatan laut menyusun cerita bahwa surat mewakili ‘ Panitia Penyelidikan Pendeteksian Kapal selam Yang dipadukan’, dan secara luas percaya, meskipun [demikian] tidak (ada) panitia yang bersikap menegaskan nama yang pernah ditemukan Markas besar angkatan laut [itu] Archives.[2]

Pada tahun 1918, kedua-duanya, U.S. dan Inggris yang yang telah membangun sistem aktif, meskipun Britania mendahului AS. Mereka menguji ASDIC mereka Pada HMS Antrim di  1920, dan memulai produksi di (dalam) 1922. 6Th Kapal perusak Armada kecil mempunyai Kapal ASDIC-equipped di tahun 1923. Suatu sekolah anti kapal selam, HMS Osprey, dan suatu armada kecil pelatihan empat kapal telah dibentuk pada [atas] Portland di (dalam) 1924. U.S. Sonar QB yang di-set tiba tahun 1931.

Dengan perjangkitan Perang Dunia II, Angkatan laut Yang kerajaan mempunyai lima menetapkan untuk kelas kapal permukaan berbeda, dan untuk kapal selam, menyatukan dengan suatu anti-submarine sistem serangan lengkap. Efektivitas awal ASDIC Telah terbatas oleh penggunaan bom laut sebagai suatu anti-submarine senjata. Ini memerlukan suatu menyerang kapal untuk mengabaikan suatu kontak menyelam meneteskan di buritan, menghasilkan hilangnya Kontak ASDIC pada waktu sebelum serangan. Pemburu secara efektif menembak buta, selama waktu suatu kapal selam pemimpin bisa mengambil tindakan mengelak. Situasi ini telah diperbaiki dengan  penggunaan beberapa kapal [yang] bekerja sama dan oleh adopsi ” di depan melemparkan senjata”, seperti Hedgehog dan Squid kemudiannya, Yang memproyeksikan hulu ledak pada suatu target di depan penyerang dan [dengan] begitu masih di dalam Kontak ASDIC. Pengembangan sepanjang peperangan mengakibatkan ASDIC Britania Netapkan yang menggunakan beberapa bentuk [balok/berkas cahaya] berbeda, [yang] secara terus-menerus mencakup kelemahan. Kemudian, torpedo akustik telah digunakan.

Di awal Perang Dunia II, Teknologi ASDIC Britania telah ditransfer  cuma-cuma kepada Amerika Serikat. Riset atas bunyi dalam air dan ASDIC telah diperluas di UK dan AS . Banyak jenis alat baru pendeteksian bunyi;dalam militer telah dikembangkan. Ini dimasukkan sonobuoys, pertama yang dikembangkan oleh orang Britania 1944, dipping/dunking sonar dan sonar pendeteksian tambang/ranjau/aku. Pekerjaan ini membentuk basis untuk pengembangan setelah perang yang berhubungan dengan membalas kapal selam yang nuklir itu. Bekerja pada  sonar telah pula dilaksanakan oleh Negara-Negara Poros, yang khususnya di  Negara Jerman, Yang mencakup tindakan balasan. Pada ujung WWII ini Pekerjaan Jerman telah berasimilasi oleh Inggris dan AS. Sonar mempunyai tetap dikembangkan oleh banyak negara-negara, termasuk Rusia, karena kedua-duanya menggunakan  militer dan sipil. Di tahun terakhir militer yang utama pengembangan  terus meningkatkan minat akan frekwensi rendah sistem aktif.

  1. Penyebaran Bunyi

Operasi Sonar dimakan karat oleh variasi dalam kecepatan bunyi; yang terutama sekali di dalam wahana yang vertikal. Perjalanan Bunyi lebih pelan di dalam air bersih dibanding air laut, meskipun demikian perbedaan di dalam kecepatan antara yang laut dan tawar adalah kecil. Semua kecepatan bunyi ditentukan oleh rapat massa dan modulus limbaknya. Modulus limbak dimakan karat oleh temperatur, kemurnian yang dihancurkan ( pada umumnya berkadar garam), dan memaksa. Efek rapatan adalah kecil. Kelajuan bunyi dalam meter per detik) kira-kira sepadan dengan:

4388+ ( 11.25× temperatur ( dalam ° F))+ ( 0.0182× kedalaman ( dalam kaki))+ berkadar garam (dalam parts-per-thousand).

Ini adalah suatu penyamaan perkiraan yang diperoleh secara akurat untuk suhu normal, konsentrasi berkadar garam dan cakupan kebanyakan kerendahan samudra. Temperatur Samudra bervariasi dengan kedalaman, tetapi pada antara 30 dan 100 meter ada sering suatu ditandai perubahan,  thermocline, membagi air permukaan yang lebih hangat dari yang dingin, perairan tenang yang menyusun;merias sisa dari samudra. Ini dapat menghalangi sonar, suatu bunyi yang dimulai pada satu sisi thermocline cenderung untuk dibengkokkan, atau dibelokkan, melalui thermocline tersebut. Thermocline mungkin hadir di dangkalan perairan pantai. Bagaimanapun, melambaikan tindakan akan sering mencampur kolom air  dan menghapuskan thermocline tersebut. Tekanan Air juga mempengaruhi penyebaran bunyi. Tekanan yang ditingkatkan meningkatkan kecepatan bunyi yang menyebabkan gelombang suara untuk membelokkan menjauh dari area bunyi lebih tinggi kecepatannya. Model matematika pembiasan disebut Hukum Snell’s.

Gelombang suara yang menyebar ke dalam tekukan laut samudra mem-backup kepada permukaan di dalam busur lingkaran/lingkungan besar dalam kaitan dengan meningkatkan tekanan (dan karena kecepatan bunyi) dengan kedalaman. Samudra harus sedikitnya 6000 kaki ( 1850 m) dalam, atau gelombang suara akan menggema mulai sebagai ganti membelokkan naik ke atas, dan kerugian cerminan/pemantulan pada dasar/nya mengurangi capaian. Di bawah kondisi-kondisi yang benar gelombang suara ini akan (menjadi) dipusatkan dekat permukaan dan dibelokkan mengalah dan mengulangi busur lingkaran/lingkungan lain. Masing-Masing fokus di permukaan disebut suatu ranah konvergen ( CZ). CZ Ini membentuk suatu anulus tentang sonar itu. Jarak Dan Lebar CZ tergantung pada berkadar garam dan temperatur air itu. Di  Lautan Atlantik Yang utara, sebagai contoh, CZS ditemukan kira-kira tiap-tiap 33 nautika miles ( 61 km), tergantung pada musimnya. Bunyi bahwa dapat mendengar dari hanya beberapa mil suatu garis langsung dapat oleh karena itu juga dideteksi beratus-ratus miles pergi. Dengan sonar kuat yang dulu, detik/second dan CZ ketiga secara wajar bermanfaat; lebih lanjut  ke luar dibanding  isyarat adalah yang terlalu lemah, dan kondisi-kondisi yang berkenaan dengan panas yang terlalu tidak stabil, mengurangi keandalan isyarat itu. Isyarat secara alami disusutkan oleh jarak, tetapi sistem sonar modern sangat sensitif, yaitu. dapat mendeteksi di samping suatu signal-to-noise perbandingan rendah.

Jika sumber bunyi dalam kondisi-kondisi benar, perkembangbiakan boleh terjadi ‘ saluran bunyi dalam’. Ini menyediakan kerugian perkembangbiakan sangat rendah bagi suatu penerima dalam saluran itu. Ini adalah oleh karena bunyi;serasi yang menjerat saluran dengan tidak ada kerugian di batasan-batasan tersebut. Perkembangbiakan serupa dapat terjadi pada ‘ saluran pipa permukaan’ di bawah kondisi-kondisi pantas. Bagaimanapun dalam hal ini ada kerugian cerminan/pemantulan di permukaan.

Di dalam perkembangbiakan air dangkal biasanya oleh cerminan/pemantulan yang diulangi di permukaan dan alas, di mana kerugian pantas dipertimbangkan dapat terjadi.

Bunyi Serasi adalah juga terpengaruh oleh penyerapan di dalam air  sendiri seperti halnya di permukaan dan alas. Penyerapan ini adalah bergantung frekwensi, dengan beberapa mekanisme berbeda di dalam air laut. Dengan begitu sonar memerlukan untuk beroperasi di atas jangka panjang , cenderung untuk menggunakan frekwensi rendah ke minimise penyerapan mempengaruhi.

Laut berisi sumber banyak orang suara gaduh yang bertentangan dengan tandatangan atau gema target yang diinginkan. Sumber Suara gaduh yang utama adalah dalam kaitan dengan ombak dan pengiriman. Gerakan penerima melalui air dapat juga menyebabkan suara gaduh frekwensi rendah, yang mana mempercepat dependent.

  1. Gema

Kapan sonar aktif digunakan, menyebar terjadi dari object kecil di dalam laut seperti halnya dari dasar dan permukaan. Ini bisa merupakan suatu sumber gangguan campur tangan yang utama tetapi tidak terjadi dengan sonar pasif. Ini menyebar efek adalah berbeda dari yang di dalam gema ruang yang mana adalah suatu peristiwa cerminan/pemantulan. Suatu analogi untuk gema adalah menyebar suatu lampu besar di dalam kabut at. Suatu high-intensas pensil berkas cahaya akan menembus kabut itu, lampu besar utama adalah lebih sedikit directional dan mengakibatkan ” white-out” di mana gema yang dikembalikan mendominasi. Dengan cara yang sama, untuk mengalahkan gema, suatu sonar aktif harus memancarkan suatu berkas sempit.

  1. Karakteristik Target

Target suatu sonar, seperti suatu kapal selam, mempunyai dua karakteristik utama yang mempengaruhi capaian sonar itu. Karena sonar aktif tersebut karakteristik cerminan/pemantulan bunyi serasi, mengenal sebagai kekuatan targetnya. Karena sonar  pasif targetnya menyebarkan karakteristik suara gaduh  kritis. Spektrum yang menyebar di dalam  umum  akan terdiri dari dari suatu rangkaian yang belum terpecahkan menyiarkan dengan garis spektrum di dalamnya, baris digunakan untuk penggolongan.

Gema adalah juga diperoleh dari  object lainnya  di dalam laut seperti ikan paus, gerombolan ikan dan batu karang.

  1. Tindakan balasan

Tindakan balasan aktif mungkin adalah diluncurkan oleh suatu kapal selam di bawah menyerang untuk menaikkan aras derau dan menyediakan suatu target sumbang. Tindakan balasan pasif meliputi suara gaduh kerja pemasangan yang membangkitkan alat pada alat dan mantel sarung/bungkus kapal selam.

  1. Jenis-jenis sonar

8.1. Sonar aktif

Prinsip dari suatu sonar aktif

Sonar aktif menggunakan suatu pemancar bunyi dan suatu penerima. Kapan keduanya adalah di dalam tempat yang sama itu adalah operasi monostatic. Ketika pemancar dan penerima dipisahkan ia/nya adalah operasi bistatic. Ketika pemancar lebih digunakan lagi dengan leluasa memisahkan itu adalah operasi multistatik. Kebanyakan sonar digunakan monostatically dengan array yang sama sering digunakan untuk transmisi dan resepsi. Sonobuoy aktip Bidang mungkin adalah dioperasikan multistatically.

Sonar aktif menciptakan suatu denyut nadi bunyi sering ” berdesing”, dan kemudian mendengarkan untuk cerminan/pemantulan ( gema) tentang getaran. Denyut nadi bunyi ini biasanya diciptakan secara elektronis menggunakan suatu Proyektor Sonar terdiri dari suatu generator isyarat, menggerakkan amplifier dan transducer/array electro-acoustic, yang mungkin dengan suatu beamformer. Bagaimanapun, mungkin saja diciptakan oleh lain alat, secara kimiawi menggunakan bahan ledak, atau (  airguns atau plasma bunyi sumber.

Untuk mengukur jarak itu pada suatu obyek, waktunya dari transmisi suatu denyut nadi ke resepsi diukur dan diubah jadi suatu cakupan oleh mengetahui kelajuan bunyi itu. Untuk mengukur yang bearing/tegas, beberapa hidrofon digunakan, dan di-set ukuran waktu tiba yang relatif pada masing-masing, atau dengan suatu array hidrofon, dengan mengukur amplitudo yang relatif di dalam berkas cahaya membentuk melalui suatu proses yang yang disebut beamforming. Penggunaan dari suatu array mengurangi tanggapan yang mengenai ruang sedemikian sehingga untuk menyediakan tutup lebar/luas multibeam sistem digunakan. Isyarat Target kini hadir bersama-sama dengan suara gaduh kemudian  melintas berbagai format isyarat yang memproses, untuk sonar yang sederhana mungkin baru saja pengukuran energi. Kemudian memperkenalkan ke beberapa format alat keputusan yang disebut keluaran itu yang manapun isyarat yang diperlukan atau menyiarkan. Keputusan ini Alat mungkin adalah suatu operator dengan headphone atau suatu pajangan, atau di dalam sonar yang lebih canggih fungsi ini mungkin adalah dilaksanakan oleh perangkat lunak. Proses lebih lanjut  mungkin  dilaksanakan untuk menggolongkan target  dan melokalisir itu, seperti halnya mengukur percepatan nya.

Denyut nadi pada frekwensi tetap atau suatu bersiul mengubah frekwensi ( untuk mengijinkan tekanan denyut nadi ). Sonar sederhana yang biasanya menggunakan yang terdahulu dengan suatu saringan yang lebar/luas cukup untuk metutup. Mungkin Doppler berubah dalam kaitan dengan pergerakan target, selagi orang-orang lebih rumit yang biasanya meliputi teknik yang belakangan itu. Hari ini, berdenyut tekanan pada umumnya dicapai menggunakan teknik korelasi digital. Sonar Militer sering mempunyai berbagai berkas cahaya untuk menyediakan tutup serba bisa selagi orang-orang sederhana hanya meliputi suatu busur lingkaran/lingkungan sempit. Yang mula-mula yang belakangan adalah sering diteliti di sekitar dengan mesin tetapi ini adalah suatu proses lambat.

Yang terutama sekali ketika transmisi frekwensi tunggal digunakan, Efek Doppler mungkin  digunakan untuk ukuran kecepatan yang radial suatu target. Perbedaan di dalam frekwensi antar isyarat diterima dan yang dipancarkan diukur dan diubah jadi suatu percepatan. Karena sejak Doppler pergeseran dapat diperkenalkan oleh baik  penerima maupun  gerakan target, pinjaman harus dibuat untuk kecepatan yang radial mencari platform.

Satu sonar yang kecil bermanfaat lihat dengan kasar suka suatu lampu senter tahan air. Satu hal yang kepala ke dalam air, tekanan [adalah] suatu tombol, dan membaca suatu jarak. Varian lain a ” fishfinder” pertunjukan itu adalah suatu pajangan kecil dengan kawanan mencari ikan. Beberapa sonar warganegara mendekati sonar militer aktif di dalam kemampuan, dengan three-dimensional pajangan yang sungguh eksotis area dekat perahu itu. Bagaimanapun, sonar ini tidaklah dirancang untuk sembunyi-sembunyi.

Kapan sonar aktif digunakan untuk ukuran jarak dari transducer kepada alas dikenal sebagai gema. Metoda serupa mungkin digunakan melihat yang menaik untuk pengukuran frekuensi gelombang.

Sonar aktif adalah juga digunakan untuk jarak ukuran melalui/sampai air antara dua sonar transducers atau suatu kombinasi suatu hidrofon ( mikropon akustik di dalam air) dan proyektor ( pembicara akustik di dalam air). Suatu transducer adalah suatu alat yang dapat memancarkan dan menerima isyarat akustik (” berdesing”). Ketika suatu hydrophone/transducer menerima suatu isyarat interogasi spesifik [itu] menjawab dengan pemancaran suatu isyarat jawaban spesifik. Untuk mengukur jarak, satu transducer/projector memancarkan suatu isyarat interogasi dan mengukur waktunya antar[a] transmisi ini dan penerimaan transducer/hydrophone lain  menjawab. Waktunya perbedaan, scaled oleh kelajuan bunyi melalui/sampai air dan yang dibagi oleh dua orang, adalah jarak antara kedua platform. Teknik ini, ketika menggunakan dengan berbagai transducers/hydrophones/projectors, dapat mengkalkulasi posisi yang relatif [dari;ttg] statis dan ber/gerakkan object di (dalam) air.

Dalam masa perang, emisi/ pancaran dari suatu denyut nadi aktip menjadi sangat  mencurigakan untuk suatu kapal selam sembunyi-sembunyi bahwa dipertimbangkan suatu pelanggaran atas yang sangat menjengkelkan taktik.

Suatu yang sangat directional, namun low-efficiency jenis sonar ( yang digunakan oleh perikanan, militer, dan untuk keamanan pelabuhan) menggunakan suatu nonlinear corak kompleks air mengenal sebagai sonar  tidak linier, yang sebetulnya transducer dikenal sebagai suatu array parametric.

8.2. Sonar pasif

Sonar pasif mendengarkan tanpa memancarkan, sering dipekerjakan militer yang menentukan, walaupun ini juga yang digunakan aplikasi ilmu pengetahuan, pendeteksian memancing-mancing presence/absence belajar dalam berbagai lingkungan yang berhub dengan air- lihat juga ilmu suara pasif dan radar pasif. Di dalam pemakaian yang sangat luas, istilah ini dapat meliputi hampir manapun teknik analitis menyertakan sedikit menghasilkan bunyi, meskipun demikian itu pada umumnya terbatas ke teknik menerapkan adalah suatu lingkungan yang berhub dengan air.

Identifikasi sumber bunyi serasi

Sonar pasif mempunyai suatu  teknik yang luas  untuk mengidentifikasi sumber suatu bunyi;serasi dideteksi. Sebagai contoh, U.S. kapal yang pada umumnya beroperasi 60 Hz Sistem  Arus bolak-balik. Jika trafo atau generator menjulang tanpa isolasi/penyekatan getaran sesuai dari sarung/bungkus atau menjadi flooded, yang 60 Hz bunyi dari lilitan dapat dipancarkan dari kapal selam atau kirim. ini Dapat membantu ke arah mengidentifikasi kebangsaannya, ketika Kapal selam Eropa mempunyai 50 Hz menggerakkan sistem. Sumber Bunyi Serasi sebentar-sebentar ( seperti suatu pilinan) boleh juga jadilah dapat ditemukan ke sonar pasif. Sampai secara wajar baru-baru ini, identifikasi suatu isyarat telah dilaksanakan oleh suatu operator yang menggunakan pengalaman dan pelatihan. Sekarang komputer mungkin  memanfaatkan proses ini.

Sonar pasif Sistem mungkin punya database sonik besar, bagaimanapun penggolongan akhir biasanya dilakukan dengan tangan oleh operator sonar. Suatu sistem komputer sering menggunakan database ini untuk mengidentifikasi kelas kapal, tindakan ( yaitu., kecepatan suatu kapal, atau jenis senjata melepaskan), dan bahkan kapal tertentu. Penerbitan untuk penggolongan bunyi serasi disajikan oleh dan secara terus menerus yang dibaharui oleh Kantor Inteligen Kelautan U.S.

  1. Suara gaduh Pembatasan

Sonar pasif pada sarana angkut umumnya sungguh terbatas oleh karena suara gaduh yang dihasilkan oleh sarana angkut itu. Karena ini memberi alasan, banyak kapal selam beroperasi reaktor inti yang dapat didinginkan tanpa pompa, penggunaan pemindahan gas/panas diam, atau sel bahan-bakar atau baterei, yang dapat juga dengan diam. Baling-Baling sarana angkut adalah juga dirancang dan dengan tepat machined untuk memancarkan suara gaduh minimal. Baling-Baling kecepatan tinggi sering menciptakan gelembung kecil di dalam air, dan peronggaan ini mempunyai suatu bunyi serasi beda.

Sonar Hidrofon mungkin diseret di belakang kapal atau kapal selam dalam rangka mengurangi efek suara gaduh yang dihasilkan oleh kapal/ keahlian olahraga air sendiri. Unit yang diseret juga menyerang thermocline itu, ketika unit diseret di atas atau di bawah thermocline.

Pasangan sonar yang paling pasif digunakan menjadi suatu two-dimensional air terjun memajang. Arah yang horisontal pajangan adalah bearing/tegas. Yang vertikal adalah frekwensi, atau kadang-kadang waktu. Teknik Pajangan lain adalah ke color-code frequency-time informasi untuk [yang] bearing/tegas. Pajangan terakhir dihasilkan oleh komputer, dan pemain mimik radar-type merencanakan pajangan indikator posisi.

Tidak sama dengan sonar aktif, hanya perkembangbiakan satu arah dilibatkan. Oleh karena isyarat berbeda, isyarat dapat ditemukan yang minimum untuk menyiarkan perbandingan berbeda. Penyamaan untuk menentukan capaian suatu sonar pasif adalah:

 SL- TL= NL- DI+ DT

Di mana SL adalah aras lumber, TL adalah kerugian transmisi, NL adalah aras derau, DI adalah indeks keterarahan array ( suatu perkiraan kepada keuntungan array) dan DT adalah ambang pintu pendeteksian. Kepekaan instrument suatu sonar pasif adalah:

 FOM= SL+ DI- ( NL+ DT).

Peperangan kelautan modern membuat penggunaan sonar luas. Dua jenis yang diuraikan di atas adalah kedua-duanya menggunakan dari berbagai platform, yaitu diangkut dengan kapal kapal, pesawat terbang dan perbaiki instalasi. Kegunaan sonar aktip melawan sonar pasif tergantung pada karakteristik suara gaduh yang menyebar target, yang biasanya suatu kapal selam. Walaupun di dalam WWII sonar aktif sebagian besar digunakan, kecuali oleh kapal selam, dengan kedatangan isyarat modern memproses sonar pasif telah lebih disukai untuk pendeteksian awal. Ketika kapal selam sudah menjadi menenangan, operasi aktip kini yang lebih digunakan. Di tahun 1987 suatu divisi Toshiba menjual permesinan itu ke Rusia yang mengijinkan untuk menggiling mata pisau baling-baling kapal selam sedemikian sehingga mereka menjadi secara radikal menenangan, menciptakan suatu keamanan sangat besar mengeluarkan dengan generasi kapal selam lebih baru mereka.

Sonar aktif sangat bermanfaat, karena memberi bearing/tegas yang tepat bagi suatu target ( dan kadang-kadang cakupan). Sonar aktif berhasil bekerja sama seperti radar. Suatu isyarat dipancarkan, gelombang suara kemudian bepergian banyak arah dari itu memancarkan obyek. Ketika itu memukul suatu obyek, gelombang suara kemudian adalah yang dicerminkan banyak lain arah. Sebagian dari energi akan bepergian kembali memancarkan sumber. Gema akan memungkinkan teknisi atau sistem sonar untuk mengkalkulasi, dengan faktor banyak orang seperti frekwensi, energi isyarat yang diterima, kedalaman, temperatur air, dll. posisi itu mencerminkan obyek. Sonar aktif digunakan ketika pemimpin platform menentukan bahwa lebih penting bagi menentukan posisi suatu kapal selam ancaman mungkin dibanding itu adalah untuk mengungkapkan posisinya. Dengan permukaan kapal itu bisa mengira bahwa ancaman itu telah perkerjaan mengikuti jalan kapal dengan satelit menanggali. Manapun kapal di sekitar memancarkan sonar akan mendeteksi emisi/ pancaran itu. Setelah mendengar isyarat itu, adalah mudah untuk mengidentifikasi jenis sonar itu ( yang pada umumnya dengan  frekwensinya ) dan posisinya (dengan energi gelombang suara). Lebih dari itu, sonar aktif, serupa dengan radar, mengijinkan pemakai untuk mendeteksi object pada suatu cakupan tertentu tetapi juga memungkinkan lain platform untuk mendeteksi sonar aktif pada suatu cakupan lebih besar jauh.

Sejak sonar aktif tidak mengijinkan penggolongan yang tepat dan yang sangat ribut, pendeteksian jenis ini digunakan oleh platform wahana cepat helikopter dan oleh platform ribut ( kebanyakan kapal permukaan) tetapi sangat jarang oleh kapal selam. Proyektil Balistik Kapal selam tidak genap mempunyai sonar aktif, karena mereka tidak ingin mengambil resiko pendeteksian. Kapan sonar aktif digunakan oleh kapal permukaan atau kapal selam,secara khas diaktifkan dengan singkat pada periode sebentar-sebentar, untuk mengurangi resiko pendeteksian oleh suatu sonar musuh pasif. Sedemikian, sonar aktif secara normal dipertimbangkan suatu backup ke sonar pasif. Di dalam pesawat terbang, sonar aktif digunakan dalam wujud sonobuoys itu singgah area patroli pesawat terbang atau di sekitar sonar musuh mungkin menghubungi.

  1. Transponder

Ini adalah suatu alat sonar aktif yang menerima suatu stimulus dan dengan seketika ( atau dengan suatu penundaan) memancarkan kembali isyarat yang diterima atau suatu ditentukan.

  1. Sonar Tangan

Peralatan selam yang menggunakan sonar tangan INSS

* LIMIS(= Tambang/Ranjau/Aku Sifut Yang Imaging Sonar) adalah suatu hand-held atau ROV-mounted Imaging sonar untuk penggunaan oleh suatu penyelam. Nama nya adalah sebab telah dirancang untuk patroli beberapa ( menyerang frogmen atau Pemeriksaan Beberapa) untuk mencari sifut menambang air jarak penglihatan rendah. Mata rantai:

o [ 1] Abstrak artikel oleh Masyarakat Yang internasional untuk Rancang-Bangun Berhubung dengan mata [ 17]

o [ 2] yang digunakan untuk Temukan bekas peninggalan dari Pintalan [Ruang;Spasi] Columbia roboh/hancur

o [ 3] yang digunakan Cari ikan riset jalan lintasan pada fasilitas tenaga air

* LUIS(= Lensa Di dalam air Imaging Sistem) adalah yang lain yang imaging sonar untuk penggunaan oleh suatu penyelam. Mata rantai:

o [ 4] Penggunaan yang menghitung ikan salem di (dalam) suatu sungai

* Ada atau adalah suatu handheld sonar [yang] flashlight-shaped kecil untuk beberapa, bahwa melulu memajang cakupan.

* Karena INSS= Sistem Sonar Ilmu pelayaran Yang terintegrasi lihat:-

o suatu gambaran.

o uraian pendek/singkat

  1. Ramalan Capaian

Suatu target sonar adalah sanak keluarga kecil kepada lapisan, mengerumuni/berkisar pada emiter yang di atasnya itu ditempati. Oleh karena itu, isyarat yang dicerminkan adalah sangat rendah, beberapa pesanan penting/besar kurang dari isyarat yang asli itu. Sekalipun isyarat yang dicerminkan menjadi sama, contoh yang berikut ( penggunaan nilai-nilai hipotetis) menunjukkan masalah  Ira suatu sistem sonar adalah mampu untuk memancarkan suatu 10,000 W/M² Isyarat pada 1 m, dan mendeteksi suatu 0.001 W/M² Isyarat. Pada 100 m isyarat akan [jadi] 1 W/M² ( dalam kaitan dengan hukum balikan knadrat). Jika keseluruhan isyarat dicerminkan dari suatu 10 m² target, akan jadi pada 0.001 W/M² ketika menjangkau emitter itu, yaitu baru saja dapat ditemukan. Bagaimanapun, isyarat yang asli akan tinggal di atas 0.001 W/M² sampai 300 m. Manapun 10 m² target antar[a] 100 dan 300 m menggunakan suatu serupa atau sistem lebih baik akan mampu mendeteksi denyut nadi itu tetapi tidak akan dideteksi oleh emiter itu. Detektor pastilah sangat sensitip untuk mengambil gema itu. Karena sejak isyarat yang asli jauh lebih kuat dapat dideteksi banyak kali lebih lanjut  dibanding dua kali lebih cakupan sonar ( seperti di contoh).

Di dalam sonar aktif ada dua pembatasan capaian, dalam kaitan dengan suara gaduh dan gema. Di dalam umum  satu atau lain ini akan mendominasi sedemikian sehingga dua efek dapat pada awalnya dipertimbangkan secara terpisah.

Di dalam suara gaduh membatasi kondisi-kondisi pada pendeteksian awal:

SL- 2TL+ T- ( NL – DI)= DT

Di mana SL adalah aras lumber, TL adalah kerugian transmisi ( atau kerugian perkembangbiakan), T adalah kekuatan target, NL adalah aras derau, DI adalah indeks keterarahan array ( suatu perkiraan kepada keuntungan array) dan DT adalah ambang pintu pendeteksian.

Di dalam gema membatasi kondisi-kondisi pada pendeteksian awal ( keuntungan array pelalaian):-

SL- 2TL+ T= RL+ DT

dimana RL adalah gema mengukur dan faktor lain   sama dengan dulu.

  1. Efek kurang baik

Sonar High-powered Pemancar boleh merugikan binatang angkatan laut, walaupun mekanisme yang tepat untuk ini tidak baik dipahami. Beberapa binatang angkatan laut, seperti ikan paus dan dolfin, menggunakan echolocation sistem yang serupa ke sonar aktif untuk menempatkan pemangsa dan memangsa. Diduga sonar itu pemancar bisa mengacaukan binatang ini dan menyebabkan mereka tersesat. Mereka barangkali mencegah dari pemberian makan dan kawin.

Ada bukti anekdot yang mid-frequency sonar bisa mempunyai efek kurang baik pada  ikan paus yang memberi tanggal kembali ke hari penangkapan ikan paus. Cerita yang berikut diceriterakan suatu buku menerbitkan 1995.

Sonar Frekwensi Pertengahan dan Angkapan ikan paus Sumber: Antar Ikan paus dengan Jadilah Payne ( Pg 258) yang diterbitkan 2 Juni 1995

Inovasi lain oleh penangkap ikan paus adalah penggunaan sonar untuk menjejaki ikan paus yang sedang mengejar di dalam air. Tetapi ada suatu masalah, ketika perahu mendekati ikan paus itu, ikan paus yang dimulai pernapasan [selagi/sedang] masih menyelam. Ini memproduksi suatu awan gelembung di dalam air yang mencerminkan bunyi;serasi lebih baik daripada ikan paus lakukan dan buat suatu target sumbang/palsu ( serupa apa  suatu pilot mengerjakan ketika pelepasan sekam metal untuk menciptakan suatu gema radar sumbang/palsu). Aku mencurigai bahwa . ini perilaku oleh ikan paus hanya fortuitous karena pernapasan selagi masih menyelam hanya bermakna dengan mana seekor ikan paus dapat mengurangi waktunya harus tinggal di permukaan, di mana permukaan menyeretnya bawah.

Penangkap ikan paus dengan cepat menemukan bahwa suatu frekwensi tiga ribu hertz yang nampak untuk panik ikan paus itu, menyebabkan mereka ke permukaan jauh lebih sering untuk udara, Ini a “ lebih baik: penggunaan untuk sonar sebab itu mengusahakan penangkap ikan paus itu lebih kesempatan untuk menembak ikan paus itu. Sehingga mereka memperlengkapi perahu penangkap mereka dengan sonar pada yang frekwensi. Tentu saja sonar juga mengijinkan penangkap ikan paus itu untuk mengikuti ikan paus di dalam air, tetapi itu apakah itu penggunaan sekunder. Penggunaan yang utama adalah untuk menakutkan ikan paus sedemikian sehingga mereka start “ suara terengah” di permukaan.

Pada tahun 1996, duabelas Ikan paus beaked Cuvier’s yang beached diri mereka hidup sepanjang pantai Yunani selagi NATO sedang menguji suatu sonar aktif dengan rendah dikombinasikan dan mid-range frekwensi transducers, menurut suatu catatan/kertas menerbitkan Alam jurnal di tahun 1998. Pengarang mendirikan;tetapkan untuk pertama kali mata rantai antar[a massa tidak lazim stranding ikan paus dan penggunaan sonar militer dengan penutupan bahwa walaupun persamaan waktu murni tidak bisa dikeluarkan ada lebih baik daripada suatu 99.3% kemungkinan yang sonar menguji disebabkan yang stranding. Ia catat bahwa ikan paus  telah tersebar sepanjang 38.2 kilometres pantai dan telah dipisahkan oleh suatu berarti jarak 3.5 km ( sd=2.8, n=11). Ini di/tersebar pada waktunya dan penempatan adalah tidak lazim, seperti biasanya ikan paus berkumpul pantai di tempat yang sama dan pada waktu yang sama.

Suatu NATO panel menyelidiki di atas stranding dan menyimpulkan ikan paus telah diunjukkan ke 150-160 dB yang ulang. Nilai  rendah dan mid-range sonar frekwensi. Tingkatan ini adalah sekitar 66 dB lebih sedikit ( lebih dari suatu juta kali intensitas lebih rendah) dibanding ambang pintu untuk mendengar kerusakan yang ditetapkan oleh suatu panel binatang menyusui angkatan laut experts.

Ketika Dr. Frantzis menulis artikel ini ada dua faktor penting :

  • Waktunya korelasi adalah banyak lebih ketat dibanding ia mengenal. Ia mengetahui tentang test itu dari suatu pesan ke pelaut yang mana  hanya menerbitkan bahwa test akan terjadi di atas suatu lima periode hari di dalam suatu area yang besar pada samudra itu. Sesungguhnya pertama kali sonar telah dipasang adalah pagi 12 Mei 1996, dan enam ikan paus terdampar sore itu. Hari berikut sonar telah dipasang lagi dan lain enam ikan paus terdampar sore itu. Tanpa pengetahuan mengkoordinir kapal yang ia belum akan menyadari bahwa kapal itu hanya sekitar 10-15 miles lepas pantai.
  • Sonar yang sedang digunakan diuji dalam percobaan riset dan pengembangan sonar, rata – rata lebih kecil dan lebih sedikit kekuatanna disbanding sonar operasional onboard dalam suatu kapal laut. Dr Frantzis percaya ikan paus yang terdampar menunjukkan bahwa penyebab itu mempunyai suatu besar synchronous luas mengenai ruang dan suatu serangan mendadak. Mengetahui bahwa sumber bunyi serasi secara wajar rendah ( yang dibandingkan ke suatu sonar operasional) pasti telah buat mekanisme kerusakan [itu] lebih  lagi  kebingungan.

Di mana telah diusulkan militer, sonar mempengaruhi ikan paus untuk panik dan permukaan juga dengan cepat mendorong ke arah suatu format penyakit pengurangan. yang pertama ini Angkat oleh suatu catatan/kertas menerbitkan di dalam  Jurnal Masyarakat Amerika Akustis di tahun 1996 dan 2003. melaporkan gas-bubble luka akut ( untuk bersifat menandakan penyakit pengurangan) di dalam ikan paus yang beached tidak lama sesudah start suatu militer berlatih batal/mulai Pulau Burung kenari pada bulan September 2002.

Di dalam Bahamas tahun 2000, suatu percobaan/pengadilan sonar oleh Angkatan laut Amerika Serikat pemancar dalam frekwensi mencakup 3–8 kHz pada suatu aras lumber 223–235 desibel yang ulang 1. Nilai suatu jarak 1 m yang diakibatkan batu alas tujuhbelas ikan paus, sebanyak tujuh yang telah ditemukan mati. Angkatan laut yang diterima menyalahkan suatu report, yang menemukan ikan paus yang mati untuk mempunyai mengalami acoustically-induced hemorrhages dan berdarah di sekitar telinga binatang dan eyes. Hasilkan disorientation mungkin telah menuju/mendorong stranding.

Semacam sonar mid-frequency sonar telah dihubungkan dengan massa cetacean stranding sepanjang seluruh samudra dunia, dan telah oleh karena itu yang dipilih oleh environmentalists ketika menyebabkan kematian angkatan laut mammals. Suatu penuntutan perkara yang disimpan oleh Dewan Pertahanan Sumber Alam di dalam Santa Monica, California pada 20 Oktober 2005 ditantang U.S. Angkatan laut telah menyelenggarakan sonar berlatih pelanggaran beberapa hukum lingkungan, mencakup Kebijakan Lingkungan Yang nasional Tindak, Perlindungan Binatang menyusui Angkatan laut Tindak, dan Jenis Yang dibahayakan Act. Mid-Frequency Sonar adalah betul-betul jenis yang paling umum sonar aktif yang digunakan oleh angkatan laut dunia, dan telah secara luas menyebar sejak 1960an.

Pada 13 November 2007, suatu Amerika Serikat mohon pengadilan memugar suatu kutukan pada U.S. Penggunaan angkatan laut submarine-hunting sonar di dalam misi pelatihan mulai California Selatan sampai yang diadopsi surat pengantar lebih baik untuk ikan paus, dolfin dan lain binatang menyusui angkatan laut. Pada 16 Januari 2008, Presiden George W. Semak membebaskan Angkatan laut AS dari hukum dan berargumentasi bahwa latihan kelautan adalah rumit ke keamanan nasional. Semak berkata bahwa ” penggunaan mid-frequency yang aktip sonar di dalam  minat tertinggi Amerika Serikat.” California Komisaris Pantai Sara yang lesu dikomentari bahwa keduanya pengadilan dan Komisi pengawas Yang pantai sudah berkata bahwa Angkatan laut dapat menyelesaikan misi nya seperti halnya melindungi ikan paus itu. Ini adalah penghinaan ke Californians [siapa] yang memperhatikan oceans.”[12 [itu]] Pada [atas] 4 Pebruari, 2008, suatu Hakim pemerintah pusat menguasai bahwa di samping Presiden Keputusan semak untuk membebaskan itu, Angkatan laut harus mengikuti hukum lingkungan yang menempatkan batas tegas pada mid-frequency sonar. Di dalam suatu 36 halaman keputusan, U.S. Hakim Daerah Florence-Marie tukang tong menulis bahwa Angkatan laut bukanlah ” pemenuhan yang mengecualikan dengan Kebijakan yang Lingkungan Yang nasional Tindak” dan pengadilan yang menciptakan suatu 12 nautical-mile no-sonar zone batal/mulai Selatan California. Pada 29 Pebruari, 2008, suatu three-judge pendekatan pemerintah pusat meramahi panel menegakkan pengadilan rendahan yang menuntut Angkatan laut untuk mengambil tindakan pencegahan selama pelatihan sonar untuk memperkecil kejahatan ke angkatan laut life. Mahkamah Agung U.S menjungkirbalikkan penguasa  suatu keputusan pada 12 November 2008.

  1. Metoda Peringanan

Dampak lingkungan operasi sonar aktif diperlukan untuk dilaksanakan oleh hukum AS. Prosedur untuk minimising dampak sonar dikembangkan pada setiap kasus di mana ada dampak penting.

Dampak dari bunyi serasi di dalam air dapat dikurangi dengan  pembatasan ekspose bunyi yang diterima oleh suatu binatang. Tingkatan Ekspose Bunyi yang maksimum yang direkomendasikan oleh Southall et Al. Untuk karena cetaceans adalah 183 dB yang ulang 1, Pa2 s untuk efek perilaku dan 198 dB yang ulang, Pa2 s untuk mendengar kerusakan.

Banyak yang sah tentang undang-undang dan konflik media pada isu ini bertalian dengan pertanyaan siapa yang menentukan seperti apa macam peringanan adalah cukup. Komisi pengawas pantai, sebagai contoh, mula-mula pikir untuk hanya mempunyai tanggung jawab hukum untuk beachfront, dan perairan status ( tiga miles ke dalam laut). Sejak sonar aktif adalah sebagai penolong/musik untuk kirim pertahanan, ukuran peringanan yang boleh nampak masuk akal [bagi/kepada] suatu agen warganegara tanpa militer atau latar belakang ilmiah dapat mempunyai efek celaka pada [atas] pelatihan dan kesiap-siagaan. Angkatan laut oleh karena itu sering menggambarkan kebutuhan peringanan mereka sendiri.

Contoh ukuran peringanan meliputi ( 1) tidak beroperasi pada malam hari, ( 2) tidak beroperasi pada area [yang] spesifik samudra yang dipertimbangkan sensitip, ( 3) melambat ramp-up intensitas isyarat untuk memberi ikan paus [adalah] suatu peringatan, ( 4) pelindung udara untuk mencari-cari binatang menyusui, ( 5) tidak beroperasi ketika suatu binatang menyusui dikenal sebagai di dalam suatu cakupan tertentu, ( 6) onboard peninjau dari warganegara menggolongkan, ( 6) penggunaan fish-finders untuk men/cari ikan paus di (dalam) sekitar, hampiran [itu], ( 7)large garis tepi keselamatan untuk ekspose mengukur, ( 8) tidak beroperasi ketika dolfin  sedang bow-riding, ( 9)operations pada kurang dari kuasa, dan ( 10) regu veteran yang dibayar untuk menyelidiki stranding setelah operasi sonar. Di samping biaya sebagian dari peringanan mengukur beberapa di antara mereka mungkin bertentangan dengan operasi. Karena alasan ini, kebutuhan peringanan untuk penggunaan masa perang dari sonar kelautan dapat berbeda dengan baik  kebutuhan peringanan warganegara maupun  dari kebutuhan militer selama latihan atau operasi masa damai. Larangan pada atas malam hari operasi mungkin adalah suatu barang sisa yang sangat besar  asset mahal. Lereng atas suatu isyarat di dalam intensitas tidak mungkin punya apapun dampak atas operasi berhubungan dengan geofisika, tetapi Sonar tidak bekerja baik sekali jika kamu memberi kapal selam target adalah suatu peringatan sedemikian sehingga ia dapat melakukan tindakan balasan. Diatas kapal peninjau warganegara digunakan tuna-boat operasi, dan dalam mengeruk latihan, yang secara radikal berbeda dari operasi militer.

By catatandedi

PENANGKAPAN IKAN DENGAN PURSE SEINE ( STP )

PENANGKAPAN IKAN DENGAN PURSE SEINE

 

1      PENDAHULUAN

1.1.                Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan terdiri dari 17.504 pulau yang terletak diantara dua benua Asia dan Australia serta dengan  dua samudera Hindia dan Pasifik. Luas wilayah perairan laut Indonesia yang dapat dimanfaatkan seluas 5,8 juta km2 termasuk Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI). Sedangkan potensi lestari (Maximum Sustainable Yield) sumberdaya ikan laut nasional mencapai 6,4 juta ton per tahun dengan tingkat pemanfaatan baru mencapai 70% dari MSY (DitjenTangkap, 2006).

Pembangunan usaha perikanan secara nasional mempunyai sasaran kuantitatif antara lain: pencapaian target produksi, penyediaan ikan dalam negeri, ekspor dan tenaga kerja. Pembangunan perikanan tangkap meningkat dengan cepat dari tahun ke tahun, baik pertumbuhan produksi maupun jumlah nelayan serta jumlah kapal penangkap ikan. Pemanfaatan sumberdaya perairan ini terutama dalam usaha perikanan tangkap dapat berhasil dengan baik jika didukung oleh pengadaan sarana dan prasarana yang memadai.   Laut Pasifik disebelah utara Sulawesi dan Papua merupakan salah satu wilayah perairan yang potensial akan sumberdaya ikan pelagis, terutama adalah ikan cakalang (Katswonus pelamis, termasuk dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) IX).

Ikan pelagis biasanya ditangkap dengan menggunakan alat penangkap ikan yang disebut dengan purse seine  yang dalam statistik perikanan Indonesia disebut dengan pukat cincin. Disebut demikian  karena pada bagian bawah dipasangi cincin (ring) yang berguna untuk mengerutkan  jaring sehingga berbentuk kantong, oleh sebab itu adapula yang menyebut jaring kantong. Alat ini dioperasikan dengan cara melingkari kawanan (schooling) ikan yang berada di dekat permukaan perairan.. Jadi pukat cincin termasuk alat penangkap ikan pelagis.

Prinsip pengoperasian purse seine adalah pada bagian bawah harus segera tengelam dan bagian atas tetap bertahan dipermukaan, sehingga kawanan ikan pelagis segera terkurung. Alat tangkap ini harus segera dapat mengurung kawanan ikan tersebut dan segera menarik tali kerutnya, sehinga ikan tidak dapat meloloskan diri baik secara vertikal maupun horizontal.  Jaring lingkar dengan tali kerut biasanya dibuat dari lembaran jaring dengan besar mata (mesh size) yang seragam, tetapi menggunakan ukuran benang jaring yang berbeda-beda.

Terdapat dua sistem purse seine di Indonesia, yaitu system group  dan system single. System group merupakan sebuah armada penangkapan yang terdiri dari beberapa kapal yang merupakan suatu kesatuan operasi penangkapan, diantaranya kapal penangkap, kapal lampu, kapal penarik, dan kapal penampung. Sedangkan system single hanya mengunakan satu kapal dalam operasi penangkapanya, kapal tersebut digunakan sebagai kapal penangkap sekaligus kapal penampung. Masing masing mempunyai kelebihan dan kelemahanya, tetapi untuk nelayan nelayan tradisional di Indonesia lebih memilih sistem single karena biaya operasionalnya lebih murah dibandingkan sistem group.

Hasil tangkap yang diperoleh dalam operasi penangkapan ikan dengan menggunakan purse seine bisa mencapai puluhan hingga ratusan ton, karena sifat operasinya yang memburu, mengumpulkan, kemudian mengurung kawanan ikan. Dibandingkan dengan beberapa alat tangkap yang lain, purse seine merupakan salah satu alat penangkap ikan yang paling efektif karena dapat memperoleh hasil tangkap yang besar, sehingga kalau dikelola dengan baik akan memberikan keuntungan yang besar pula.

1.2.                Maksud dan Tujuan

 

 

2.         PEMBAHASAN

2.1       Kapal purse seine

Berikut adalah perlengkapan yang  ada di kapal purse seine :

–       Self-supporting King Post dengan  Crow’s nest di ujung atasnya.

–       Main boom kira kira panjangnya 16 m.

–       Brailing boom.

–       Auxiliary boom.

–       Seine davit dengan konstruksi yang kuat.

Kapal purse seine harus juga dilengkapi winch dengan mesin yang kuat dan jumlah yang cukup. Winch tersebut digunakan untuk menarik tali kolor, menarik badan jaring, mengangkat ikan dengan caduk, menurunkan rumpon terutama untuk rumpon yang besar, dan lain-lain.

Berikut adalah winch winch yang biasanya ada di kapal purse seine :

–       Power block.

–       Main boom topping winch.

–       Two Vang winches for swing main boom starboard and port

–       Main boom winch for hoisting the skiff.

–       Power block in-haul winch

–       Cingle winch.

–       Two auxiliary boom topping winches.

–       Two auxiliary boom cargo winches.

–       Brailing winch.

–       Chocker winch

–       Corkline winch.

–       Ring stripper.

2.2.      Alat tangkap

Contoh design jaring purse seine        :

  • Panjang minimum jaring tergantung panjang kapal, biasanya 15 kali panjang kapal.
  • Dalam minimum jaring biasanya 10 % dari panjang purse seine.
  • Panjang dan dalam kantong minimum biasanya sama dengan panjang kapal.
  • Ukuran mesh size yang diperbolehkan di Indonesia tidak boleh kurang dari 1 inchi.

2.3.        Rumpon

Puslitbang Perikanan mendefinisikan rumpon sebagai berikut :   Rumpon adalah sejenis alat pengumpul ikan berupa alat, objek atau strutur yang bersifat permanen atau sementara yang didesain dan dikonstruksi dari jenis material alami dan buatan yang dijangkar menetap di laut atau dapat dipindahkan di laut dalam atau dangkal untuk maksud memikat ikan dengan efek utama memusatkan ikan agar mudah  dalam penangkapanya

Menurut BPPI Semarang rumpon merupakan alat bantu pengumpul ikan (FAD = Fish Aggragating Device) dimana alat bantu tersebut menjadikan alat tangkap yang operasionalnya lebih efektif (menghemat waktu dan tenaga) serta efisien (menghemat bahan bakar / perbekalan). Hal ini akan sangat terasa pada kegiatan perikanan tuna – cakalang, karena jenis – jenis ikan tuna merupakan ikan oceanic pelagis dan memiliki kebiasaan migrasi jarak jauh, sehingga keberadaanya sulit ditangkap dengan jumlah banyak bila tanpa terlebih dahulu dikonsentrasikan pada areal yang sempit. Salah satu bentuk alat pengumpul ikan jenis tuna yang sudah dikenal dan digunakan adalah rumpon laut dalam atau payaos.

Pemilihan tempat pemasangan rumpon harus memiliki kriteria sebagai berikut :

–     Merupakan daerah lintasan migrasi ikan yang menjadi tujuan penangkapan.

–     Tidak menggangu alur pelayaran atau di daerah yang dilarang memasang rumpon.

–     Mudah untuk mencari dan mencapainya.

–     Relatif dekat dengan pangkalan kapal.

–     Dasar perairan relatif datar.

 

Gambar rumpon tradisional    :

 

2.3.        Teknik Pengoperasian Alat Penangkap Ikan Purse Seine

Operasi penangkapan dengan purse seine diperlukan beberapa tahapan yang terdiri dari: persiapan (setting), pelingkaran jarring (purseinning), penarikan tali kerut/kolor (towing), pengangkatan jarring (hauling), pengangkatan hasil tangkapan (brelling) dan penanganan hasil tangkapan (handling) .

Persiapan penangkapan dilakukan sejak di pelabuhan sampai menjelang alat tangkap diturunkan(setting). Persiapan di pelabuhan  meliputi : pengisian bahan bakar dan oli serta air tawar, memuat perbekalan untuk konsumsi awak kapal, memuat perbekalan untuk perawatan kapal, dan pengurusan surat ijin belayar. Untuk dapat berlayar kapal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : laik laut, laik tangkap dan laik simpan. Laik laut dikeluarkan oleh syahbandar, sedangkan laik tangkap dan laik simpan dikeluarkan oleh Direktorur Kapal Penangkapan Ikan dan Alat Penangkapan Ikan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Departemen Kelautan dan Perikanan. Sedangkan persiapan di laut ditujukan untuk menyiapkan alat penangkapan ikan supaya siap dioperasikan

Alat tangkap diturunkan (setting) setelah mengetahui keberadaan kawanan ikan (schooling).  Ikan pelagis biasanya bergerombol di bawah benda yang mengapung di laut (contoh: batang kayu besar). Selain itu ikan pelagis dapat ditarik untuk berkumpul disekitar rumpon. Rumpon adalah alat bantu penangkapan yang dimasukan ke dalam laut, digunakan untuk memikat ikan-ikan supaya berkumpul, sehingga  mudah untuk ditangkap. Rumpon atau biasa disebut ”fish aggregating divice (FAD)”, telah banyak digunakan untuk memikat ikan pelagis supaya bergerombol di dekat permukaan sehingga mudah dilingkari jaring purse seine

Setting dilakukan pertama-tama dengan menurunkan skift boat (sistem group) yang berguna untuk menahan ujung jaring, kemudian kapal melingkari kawanan ikan. Setelah kawanan ikan dilingkari maka dilanjutkan dengan penarikan tali kerut/kolor yang biasa disebut dengan pursing, hingga bagian bawah jaring tertutup rapat agar ikan yang dilingkari terkurung oleh jaring yang membentuk kantong. Selanjutnya salah satu ujung jaring dimasukan ke dalam power block untuk ditarik supaya lingkaran jaring menjadi kecil untuk memudahkan ikan untuk dinaikan ke atas kapal.

Ikan yang sudah terkurung oleh jaring yang telah mengecil (biasanya disebut dengan kantong jaring) diambil dengan serok hingga semua ikan yang berada di dalam jaring naik semua. Ikan langsung dimasukan ke dalam palkah penyimpanan yang berpendingin. Pendinginan biasanya dilakukan dengan air laut yang didinginkan dan ditambah garam sehingga salinitasnya tinggi dan tidak akan membeku hingga suhu  –10oC ( ikan cakalang), atau untuk nelayan tradisional cukup menggunakan es saja.

2.4.        Hasil Tangkapan

Hasil tangkapan yang diharapkan tertangkap adalah ikan cakalang, tetapi jenis ikan lain tertangkap juga. Dari hasil penelitian pada akhir-akhir ini komposisi hasil tangkapan adalah 60% ikan cakalang dan 40% selain ikan cakalang. Ikan lainnya terdiri dari anak ikan tuna 10%, Tongkol 20% dan 10% ikan campuran.

  1. 3.            KESIMPULAN dan SARAN

 

3.1.        Kesimpulan

–       Jaring purse seine mampu menangkap ikan dalam jumlah yang  besar, sehingga kalau dikelola dengan baik mampu memberikan keuntungan yang besar pula.

–       Ikan-ikan yang tertangkap adalah jenis jenis ikan pelagis.

–       Rumpon yang dipasang dapat mempermudah untuk menentukan daerah penangkapan (fishing ground).

3.2.        Saran

–       Pemasangan rumpon harus diatur tempat dan waktunya, tidak boleh mengganggu alur pelayaran, tidak boleh pada saat ikan memijah atau bertelur, tidak boleh dipasang diperairan selat,   tidak boleh terkosentrasi pada satu tempat yang menyebabkan ikan tidak tersebar merata,  terutama rumpon rumpon yang dipasang tetap.

–       Ukuran mesh size jaring purse seine tidak boleh kurang dari 1 inchi.

 

By catatandedi

PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP LONG LINE SECARA EFEKTIF DAN EFISIEN

PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP LONG LINE  SECARA EFEKTIF DAN EFISIEN

 A. PENDAHULUAN

Dengan diproklamirkannya Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia ( ZEEI ) 200 mil dari batas perairan teritorial tanggal 21 Maret 1980, maka luas perairan Indonesia bertambah menjadi ± 5,8 juta Km2. Bertambah luasnya perairan Indonesia memberi harapan baru yang menguntungkan bagi perkembangan perikanan laut.

Potensi lestari sumberdaya hayati perikanan tuna di perairan teritorial dan ZEEI diperkirakan 258,8 ribu ton per tahun ( Anonymus,1983 ). Bertambahnya potensi perikanan tuna dari ZEEI merupakan tantangan bagi kita untuk dapat mengelola dan memanfaatkannya secara rasional.

Long Line merupakan salah satu alat tangkap yang efektif dan khusus ditujukan untuk menangkap ikan tuna, karena konstruksinya mampu menjangkau kedalaman renang ( Swimming layer ) dan sangat sesuai untuk dioperasikan di perairan ZEEI 200 mil.

B. PENGERTIAN

Long line adalah tali yang memanjang yang dimasukkan ke dalam laut, terdiri dari main line ( tali utama ) dan branch line ( tali cabang ) yang diikatkan pada tali utama tersebut. Tali cabang adalah tali sebagai cabang dari tali utama, yang menjorok ke dalam laut, dan di bawahnya digantungkan pancing – pancing yang diberi umpan.

C. KAPAL TUNA LONG LINE

Kapal untuk ikan tuna long line, termasuk jenis kapal untuk laut lepas. Hal itu dikarenakan daerah penangkapan ikan tuna ataupun jenis ikan tuna lainnya berada jauh dari lepas pantai, maka kemampuan kapal juga tergantung pada ukuran besar kecilnya kapal.

1. Kapal ikan tuna long line dilengkapi dengan mesin seperti

· Line hauler : Mesin untuk menarik tali dari laut

· Side roller : Roll dipakai ketika menarik tali dari laut

· Line roller : Mesin untuk membuang tali ke laut

· Branch reel : Mesin untuk menggulung tali cabang dari laut

 

2. Alat penangkapan ikan tuna

Alat penangkapan ikan tuna terdiri dari tali utama, tali cabang, tali pelampung, pelampung dan pancing.

· Tali utama ( main line )

a Tali utama tali ini adalah tali utama ( main line ) pada tuna long line

b Di tali utama dipasang tali cabang setiap 50 m

· Tali cabang ( branch line )

a Tali cabang ini adalah tali cabang pancing sepanjang 20 – 50 m

b Di ujung tali cabang dipasang mata pancing

· Tali pelampung ( buoy line )

a Tali ini adalah tali – tali untuk mengapungkan tali utama

b Tali ini menyambungkan pelampung dengan tali utama

c Mudah dipasang dan dicabut dengan tali utama karena ada snaph

· Pelampung ( float )

a Pelampung adalah alat untuk mengapungkan tali utama di laut

b Pelampung berbentuk bola plastik yang cukup besar

· Pelampung berlampu ( light buoy )

a Pelampung ini, pada malam hari digunakan untuk mencari posisi ujung tali tuna di laut.

b Diatas pelampung dipasang lampu tanda

· Mata pancing ( hook )

a Mata pancing dipasang diujung tali cabang

b Mata pancing ini memiliki kaitan supaya ikan yang telah memakan umpan tidak terlepas ( tetap terkait )

Tabel 1.1 Ukuran dari bagian – bagian Long Line

No. Nama Bagian Bahan Diameter

( mm )

Panjang

( m )

1. Tali Utama Polyester 6 – 6,5 50
2. Tali Cabang :

a. Snaph on

b. Tali cabang utama

c. Kili – Kili

d. Yoka

f. Pancing

Baja anti karat

Polyester

Kuningan & timah

Polyester

Baja dilapis timah

5,0

3,5

No . 28

3,3

No . 5 / 6

0,15

20

12,5

3. Tali Pelampung Polyester 6,5 30
4. Pelampung Plastik 300

 

 

D. PERSIAPAN PENANGKAPAN

1. Persiapan Berangkat.

Sebelum berangkat diperlukan waktu satu minggu untuk persiapan. Kapten harus betul – betul sudah merencanakan apa yang diharapkan dari hasil penangkapan itu dan menentukan untuk rencana pelayaran baru.

Para ABK bersiap untuk memuat barang perbekalannya, selain itu juga para pegawai perusahaan perikanan yang di darat harus sudah memulai keperluan operasi pemancingan ikan dan barang – barang yang diminta dari anak buah kapal tersebut.

Seiring perkembangan zaman dengan adanya teknologi canggih, baik mesin – mesin maupun peralatan penangkapan ikan yang semakin modern, begitu pula cara memesan barang atau memperbaiki peralatan yang rusak, cukup dengan memesan ke pabriknya langsung sebelum bertolak, dengan kata lain persiapan untuk bertolak waktunya semakin pendek.

Bagi ABK, karena pelayaran long line ini jangka panjang, maka dapat membawa barang – barang pribadi yang diperlukan, selain itu saat ini alat komunikasi semakin canggih, untuk berhubungan dengan darat dapat dilakukan sewaktu – waktu.

2. Berlayar

Berkenaan dengan hasil laporan ke darat ( kantor pusat ) pada kapal ikan tuna jenis Long Line ini, semakin ditingkatkan kualitasnya. Persiapan alat pancing akan dimuat ke kapal, tidak perlu dikerjakan sendiri oleh ABK, maka bagi dirinya lebih enak. Hanya setelah sampai ke Daerah Penangkapan, ABK tinggal siap untuk memulai operasi memancing, jadi tidak perlu membenahi alat – alat pancingnya, dengan jalan ini jelas waktunya semakin hemat. Alat – alat ini semua umumnya telah disediakan oleh toko penjual alat – alat pemancingan, untuk itu berarti penanganan atau pemeliharaannya sedikit.

  1. Perijinan kapal

Untuk memenuhi persyaratan peraturan pelayaran, maka setiap kapal harus memenuhi standar kelayakan laut, guna menjamin keselamatan kapal serta untuk mengendalikan usaha perikanan melalui perijinan. Perijinan berfungsi untuk membina usaha perikanan dan memberikan kepastian usaha perikanan itu sendiri. untuk memenuhi ketentuan yang berlaku adapun persyaratan kelayakan laut kapal Long Line meliputi :

  • Ijin Usaha Perikanan ( IUP ) • Sertifikat Kesempurnaan
  • Surat Penangkapan Ikan ( SPI ) • Surat Tanda Kebangsaan
  • Surat Ijin Penangkapan Ikan ( SIPI ) • Surat Ukur
  • Surat ijin berlayar dari syahbandar • Sijil Awak Kapal
  • Sertifikat garis muat
  1. Perbekalan

Dibawah petunjuk dari Kapten dan Bosun semua ABK memuat umpan, alat – alat deck, alat – alat pancing dan air tawar. Fishing master secara langsung menentukan jumlah umpan dan jenisnya, ukuran dan kesegaran ikan. Pengisian air minum dilakukan pada saat bongkar di pelabuhan. Jumlah air minum yang dimuat kira – kira 15 – 45 ton.

Perbekalan yang harus disiapkan sebelum kapal bertolak dari pelabuhan ke daerah fishing ground diantaranya :

· Umpan

· Fuel Oil dan Pelumas

· Perlengkqpqn alat tangkap cadangan

· Deck / engine supply

· Makanan dan Air tawar

· Obat – obatan

5. Persiapan lainnya

Melakukan pemeriksaan peralatan navigasi, teropong, mesin utama, alat pengganti ( suku cadang ), mesin pendingin, pompa, generator, perlengkapan, penangkapan dan lain –lain. Selain itu juga mempekerjakan orang untuk turun kapal, meyiapkan perlengkapan kesehatan, alat komunikasi, menentukan pasar dan lainnya.

E. FISHING GROUND TUNA LONG LINE

1. Prinsip fishing ground

Suatu perairan dapat dikatakan daerah penangkpan ikan ( fishing ground ) dari suatu alat, apabila alat itu dapat digunakan secara terus menerus dan menguntungkan. Dengan demikian fishing ground harus ditentukan oleh beberapa faktor antara lain :

– Faktor adanya ikan ( musim ikan )

– Faktor jenis ikan yang ada dan dapat ditangkap dengan alat tersebut

– Faktor yang menguntungkan usaha penangkapan

– Faktor meteorologi dan oceanografi serta hal lain yang mempengaruhi

2. Sifat fishing ground

Sangat tergantung dari sasaran yang akan ditangkap, sasaran utama yakni tuna dan jenis ikan pelagis lainnya yang mempunyai sifat hampir sama dengan tuna. Migrasi jenis ini jauh lebih luas sehubungan dengan itu sifat fishing ground Tuna adalah :

– Perairan dalam dan berkadar garam tinggi ( diatas 30 o/00 )

– Perairan bersih terhindar dari pencemaran dan penyebaran luas

Sifat-sifat tersebut di perairan Indonesia terdapat di samudera Indonesia dan samudera Pasifik. Karena luasnya kita bagi menjadi :

o Daerah Andaman dan Nicobar

o Daerah sebelah barat pulau Sumatera

o Daerah sebelah selatan pulau Jawa

o Daerah Nusa Tenggara

o Daerah Samudera Tengah

o Daerah Australia Barat

3. Musim Ikan

Sepanjang tahun ikan tuna dapat ditangkap. Tetapi karena pengaruh temperatur air, iklim dan arus, maka terjadilah perbedaan musim ikan di berbagai daerah, sebagai berikut:

v Bulan Januari dan Agustus : Samudera Indonesia tengah

v Bulan Februari dan Maret : Sebelah barat pulau Sumatera

v Bulan April : Daerah Andaman dan Nicobar

v Bulan Mei, Oktober s/d Desember : Sebelah barat Australia

v Bulan Juni dan September : Nusa Tenggara

v Bulan Juli dan September : Sebelah selatan pulau Jawa.

F. OPERASI PENANGKAPAN

1. Bagian penting dalam operasi

a. Keadaan kapal saat setting

Fishing Master dan kapten di ruang kemudi mengemudikan kapal sambil memperhatikan, keamanan / keselamatan pada saat setting, kecepatan setting, adanya kapal lain dan jaraknya, lintasan tali pancing, laju kapal, suhu air, pusaran arus, burung laut, lumba – lumba dan kayu yang terbawa arus.

b. Pada saat memasang umpan

Hal yang perlu diperhatikan adalah pencarian umpan, pemasangan pada mata pancing ( biasanya ikan dikait pada bagian kepalanya ). Pada ikan kembung pada bagian punggung, urutan mata pancing, melepas gulungan tali cabang, dan memeriksa cacat pada setiap bagian tali cabang.

c. Radio – buoy dan lampu

Untuk penarikan saat tengah malam, pada tali utama ( main line ) dipasang lampu sebanyak 5 – 6 buah dan radio buoy sebanyak 12 – 13 buah.

 

 

 

3. Teknik Setting

a. Waktu setting

Setting dilaksanakan pukul 2 – 3 pagi. Tali yang di setting terlebih dahulu adalah tali cabang untuk perairan laut dalam. Lama setting kira –kira 5 jam. Panjang tali utama mencapai 100 mil.

b. Pada saat sebelum setting

Pekerjaan setting dilakukan secara berurutan seperti, mengeluarkan umpan dari palka, mencairkan umpan, mulai menjalankan mesin, mengukur kedalaman air ( menggunakan alat yang dioperasikan di ruang kemudi ), menyambung antar bagian pancing dari main line ke branch line, memasang snaph, bola tali, memasang umpan pada mata pancing, memasang pelampung di tali bola, radio buoy dan mempersiapkan lampu, serta pembagian kerja diatur oleh Fishing Master dan Bosun.

Tali cabang untuk perairan laut dalam dipisahkan di sisi kapal dan tali yang akan dipakai diletakkan di bagian sebelah kiri. Bola yang tidak dipakai dan yang tidak berhubungan dengan tali yang dipasang dikumpulkan di atas ruang kemudi. Pemasangan bola diameter 30 cm dilakukan setelah pemasangan 4 buah bola diameter 20 cm.

4. Teknik Hauling

a. Waktu hauling

Untuk pengoperasian hauling dimulai kira – kira jam 12 siang. Lamanya hauling antara 12 – 18 jam.

b. Saat hauling

Sambil menggulung main line perlu diperhatikan, arah bentangan tali, keadaan hasil tangkapan dan pemotongan tali yang kusut jika diperlukan.

– Dilakukan pengaturan dan pengawasan tempat penyimpanan main line

– Penggunaan mesin pengumpul main line

– Melepas snaph

– Mengatur kembali tempat penyimpanan alat – alat

– Mengatur penggunaan tempat bola

– Membetulkan tali cabang, mengganti mata pancing, serta membetulkan tali yang       kusut.

G. CARA MEMASANG UMPAN

1. Jenis umpan :

Pada penangkapan dengan long line mengenai masalah umpan sangatlah menentukan jumlah hasil tangkap. Oleh karena itu perlu perhatian yang sebaik – baiknya, perlu kita ketahui bahwa ikan tuna dan sejenis ikan pelagis lainnya tidak suka umpan dalam bentuk irisan.

Ikan pelagis tujuan penangkapan adalah jenis ikan perenang cepat dan memiliki kebiasaan memburu mangsa. Untuk memberi kesan bahwa umpan kita itu ikan hidup, maka diusahakan menyediakan umpan dalam bentuk utuh, segar dan tidak rusak. Walaupun tidak dapat memenuhi semua syarat sebagai umpan, jenis umpan Long Line antara lain :

Ø Cumi – cumi ( terbaik tapi harganya mahal, jumlahnya terbatas )

Ø Sarden / lemuru, memiliki leher pendek dan kurang kuat

Ø Ikan Terbang ( jumlah terbatas dan sulit diperoleh )

Ø Mackerel tuna ( tongkol kecil ), lehernya kuat dan keras.

2. Cara memasang umpan

Pemasangan umpan pada long line berbeda dengan line fishing lainnya. Prinsip kerja cara pemasangan umpan yang benar menjaga agar umpan tidak terlalu rusak dan menyangkut dengan kuat.

Untuk menghasilkan cara pemasangan yang baik, maka terdapat beberapa cara bagian umpan yang terkait pancing, antara lain :

1. Mata tembus mata

2. Kepala bagian bawah atau atas segaris dengan tutup insang

3. Bagian bawah sirip dada tembus sebelah menyebelah

4. Bagian ekor

Pemilihan cara pemasangan umpan yang benar diharapkan :

a. Umpan terkait kuat, karena umpan tergantung dengan menahan arus, ikan umpan melekat kuat.

b. Umpan dapat melambai lebih baik, untuk memberi kesan bahwa umpan itu ikan hidup bebas.

3. Kecepatan memasang umpan

Umpan dipasang pada waktu itu juga, saat akan dilempar kelaut. Berdasarkan pengalaman kecepatan rata – rata tiap jam dapat menurunkan ± 500 pancing . Berarti tiap satu menit harus dapat memasang umpan antara 8 – 10 pancing.

4. Syarat umpan

  1. Ditinjau dari segi teknis :

Ø Terdiri dari satu ikan utuh

Ø Warna kontras, mengkilat ( hitam, putih atau disesuaikan dengan warna isi perut ikan tuna atau sejenisnya )

Ø Panjang antara 15 – 25 cm, lebar 2 – 5 cm

Ø Leher kuat dan daging ulet

Ø Mempunyai bau segar yang menyolok.

  1. Ditinjau dari segi ekonomis

Ø Mudah didapat dalam jumlah banyak

Ø Harganya murah

Ø Perawatan gampang dan mudah

H. HASIL TANGKAPAN

Jenis Ikan Tuna yang tertangkap dengan Long Line :

– Tuna Mata Besar ( big eye tuna )

1. Badannya agak besar pendek gemuk. Yang besar dapat mencapai 2 meter dan beratnya 200 kg.

2. Matanya agaknya besar.

– Madidihang ( yellow fin tuna )

1. Badannya tidak gemuk seperti tuna mata besar

2. Panjangnya mencapai 1,8 meter dan beratnya 100 kg

3. Sirip dada dan sirip punggung berwarna kuning

– Tuna sirip biru ( blue fin tuna )

1. Panjangnya mencapai 1,6 meter dan beratnya 300 kg

2. Warna badan bagian atas biru kehijauan

– Albakora ( albacore )

1. Tergolong tuna kecil. Dapat mencapai panjang kurang lebih 1 meter dan berat 15 kg ­

2. Sirip dada cukup panjang

– Ikan pedang ( sword fish )

1. Dapat mencapai panjang sampai 4,5 meter dan berat 500 kg

2. Rahang atas tumbuh panjang sekali dan gepeng

3. Badannya bulat

– Setuhuk ( marlin )

1. Panjang mencapai 4 meter dan berat 600 kg

– Ikan layaran ( sail fish )

1. Panjang dapat mencapai 3 meter dan berat 400 kg

2. Tidak memiliki sisik

I. PENANGANAN IKAN TUNA

1. Mengenal Ikan Tuna.

Ikan tuna merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai nilai tambah yang cukup berarti dipasaran ikan Internasional. Hal ini terbukti dengan adanya permintaan tuna segar dipasaran Jepang yang mencapai 250 – 350 ton per hari, sehingga hal ini menjadi suatu tantangan bagi Indonesia yang mempunyai potensi lestari khusus untuk ikan tuna sebesar 258,8 ribu ton / tahun.

Adapun jenis – jenis tuna segar yang diekspor adalah : Big – eye tuna ( Thunnus obesus ), Yellow fin tuna ( Thunnus albacares ).

Selanjutnya, guna mendukung ekspor tuna segar menjadi produk yang bermutu baik, maka semenjak ikan tertangkap sampai pada tangan konsumen, mutu kesegarannya harus dijaga dengan tetap mempertahankan suhu ikan berkisar 1- 2,5 0 C, atau selalu dalam keadaan di es.

2. Penanganan ( handling ) tuna segar

Dalam hal ini ada 2 cara penanganan dengan peng-Es-an biasa ( Chiling ), kedua dengan sistim Pendinginan Air Laut ( Refrigerated Sea Water ) yang sering terdapat pada kapal – kapal penangkapan.

Urutan penanganan dapat dilakukan sebagai berikut :

– Penyiapan palkah dan deck kapal, dengan cara membersihkannya terlebih dahulu.

– Pada saat ikan telah naik di atas kapal, maka harus dikerjakan secara hati – hati baik saat melepas mata pancing maupun meletakannya di atas deck, dan hindari luka – luka atau memar tubuhnya.

Bila masih hidup dapat dimatikan terlebih dahulu dengan menusukan marlin / spike tepat pada bagian otak di kepala.

– Buka salah satu tutup insang, lalu buang lapisan – lapisan insang dengan cara dipotong dengan pisau.

– Keluarkan isi perut melalui rongga insang. Untuk mempermudah penarikan isi perut maka bagian anus disobek sepanjang ± 3 cm. Sehingga usus yang menempel pada anus dapat tercabut dengan mudah.

– Cuci bersih rongga insang dengan perut, juga bagian luar tubuh ikan dengan air laut.

– Pada cara peng-Es-an biasa ( Chiling ) rongga insang dan rongga perut diisi dengan butiran Es ( Es Curai ) , kemudian disimpan di palkah dengan jalan menyelimuti tubuh ikan dengan butiran – butiran Es.

– Pada cara RSW ( Refrigerated Sea Water ), ikan yang telah dibersihkan / dibungkus dengan karung / goni atau plastik, dan selanjutnya disimpan dalam palkah.

Perlakuan ini dimaksudkan untuk menghindari rusaknya tubuh ikan oleh benturan dengan dinding palkah, atau sesama ikan itu sendiri. Sistem ini diterapkan pada kapal penangkapan yang telah dilengkapi dengan peralatan Refrigasi.

3. Perlakuan Ikan Tuna Ditempat Penampungan.

Lembaran karung / goni dihampar di atas geladak kemudian disemprot dengan air dari dalam palkah ( air pendingin ikan ).

Ikan Tuna diangkat ke atas geladak, karung pembungkus dilepas, dan ikan disimpan di atas hamparan karung basah sambil dicuci.

Selanjutnya ikan diletakan di atas kereta dorongan, dan ditutup dengan karung basah agar tidak terkena sinar matahari, lalu diangkat ke tempat penampungan.

Pada tempat penampungan, Tuna terlebih dahulu disimpan dalam bak Fibre Glass yang berisi air es.

4. Pengujian Organoleptik

Uji Organoleptik dikerjakan langsung oleh tim dari perusahaan importir. Pemeriksaan dilaksanakan dengan kriteria – kriteria sebagai berikut : keadaan rupa ikan, tekstur daging ( kekenyalan ), bau, rasa daging, dan sayatan jaringan daging.

5. Pengepakan ( Packing )

Sebelum dikemas terlebih dahulu dicuci dan dibersihkan guna membuang sisa – sisa isi perut dan insang.

Ikan Tuna dipak dengan cara ditempatkan dalam posisi terlentang pada bagian rongga insang dan rongga perut serta dekat bagian ekor diberi es yang telah dibungkus dalam plastik.

J. TEKNIK NAVIGASI

1. Menjalankan instrument nautika

Alat navigasi yang terdapat di kapal Long Line diantaranya :

Ø Gyro compass

Ø Auto pilot

Ø Radar

Ø GPS

Ø Wireless phone

Ø Fish finder / Echosounder

Dan alat Oceanografi diantaranya :

Ø Termometer

Ø Current meter

Semua alat tersebut dipakai untuk mengetahui kedalaman ikan, posisi kapal, suhu air laut dan keadaan arus.

2. Observasi

Pengamatan cuaca dan laut pada saat berlayar dilakukan oleh orang bagian deck. Pengamatan untuk berlayar dilakukan 1 kali pada waktu berlayar. Pengamatan keadaan laut untuk mendapatkan informasi pada saat berlayar serta cara mengemudikan kapal yang aman, dimaksudkan untuk meningkatkan kehandalan kerja bagi juru mudi, fishing master dan perwira deck. Keadaan cuaca pada saat masuk pelabuhan dan saat operasi, memilih daerah penangkapan, keselamatan navigasi dan saat masuk – keluar pelabuhan.

3. Penjaga saat berlayar, keselamatan operasi dan pelayaran

Semua pengetahuan penggunaan alat navigasi dan oceanografi ini sangat penting untuk dimengerti guna keamanan berlayar melalui praktek navigasi dan kapal. Khususnya pengumpulan informasi dan pengamatan meteorologi dan fenomena laut pada saat cuaca buruk dan pelayaran malam hari menjadi ketentuan penting untuk menambah pengalaman praktek. Perjalanan kapal secara aman dilakukan dengan petunjuk kapten.

By catatandedi

keadaan darurat di atas kapal

A. PROSEDUR KEADAAN DARURAT
Tujuan Instruksional Khusus:
Setelah menyelesaikan pembelajaran ini peserta diklat mampu menjelaskan dengan lancar tindakan – tindakan yang harus dilakukan apabila terjadi keadaan darurat di kapal.

1. PENDAHULUAN

Kecelakaan dapat terjadi pada kapal-kapal baik dalam pelayaran, sedang berlabuh atau sedang melakukan kegiatan bongkar muat di pelabuhan/terminal meskipun sudah dilakukan usaha supaya yang kuat untuk menghindarinya.

Manajemen harus memperhatikan ketentuan yang diatur dalam Health and Safety work Act, 1974 untuk melindungi pelaut pelayar dan mencegah resiko-resiko dalam melakukan suatu aktivitas di atas kapal terutama menyangkut kesehatan dan keselamatan kerja, baik dalam keadaan normal maupun darurat.

Suatu keadaan darurat biasanya terjadi sebagai akibat tidak bekerja normalnya suatu sistem secara prosedural ataupun karena gangguan alam.

Definisi

Prosedure :

Suatu tata cara atau pedoman kerja yang harus diikuti dalam melaksanakan suatu kegiatan agar mendapat hasil yang baik.

Keadaan darurat :

Keadaan yang lain dari keadaan normal yang mempunyai kecenderungan atau potensi tingkat yang membahayakan baik bagi keselamatan manusia, harta benda maupun lingkungan.

Prosedur keadaan darurat :

Tata cara/pedoman kerja dalam menanggulangi suatu keadaan darurat, dengan maksud untuk mencegah atau mengurangi kerugian lebih lanjut atau semakin besar.

Jenis jenis Prosedur Keadaan Darurat :

– Prosedur intern (lokal)

Ini merupakan pedoman pelaksanaan untuk masing-masing bagian/ departemen, dengan pengertian keadaan darurat yang terjadi masih dapat di atasi oleh bagian-bagian yang bersangkutan, tanpa melibatkan kapal-kapal atau usaha pelabuhan setempat.

– Prosedur umum (utama)

Merupakan pedoman perusahaan secara keseluruhan dan telah menyangkut keadaan darurat yang cuku besar atau paling tidak dapat membahayakan kapal-kapal lain atau dermaga/terminal.

Dari segi penanggulangannya diperlukan pengerahan tenaga yang banyak atau melibatkan kapal-kapal / penguasa pelabuhan setempat.

2. JENIS-JENIS KEADAAN DARURAT

Kapal laut sebagai bangunan terapung yang bergerak dengan daya dorong pada kecepatan bervariasi melintasi berbagai daerah pelayaran dalam kurun waktu tertentu, akan mengalami berbagai problematika yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti cuaca, keadaan alur pelayaran, manusia, kapal dan lain-lain yang belum dapat diduga oleh kemampuan manusia dan pada akhirnya menimbulkan gangguan pelayaran dari kapal.

Gangguan pelayaran pada dasarnya dapat berupa gangguan yang dapat langsung diatasi, bahkan perlu mendapat bantuan langsung dari pihak tertentu, atau gangguan yang mengakibatkan Nakhoda dan seluruh anak buah kapal harus terlibat baik untuk mengatasi gangguan tersebut atau untuk hares meninggalkan kapal.

Keadaan gangguan pelayaran tersebut sesuai situasi dapat dikelompokkan menjadi keadaan darurat yang didasarkan pada jenis kejadian itu sendiri, sehingga keadaan darurat ini dapat disusun sebagai berikut :
a. Tubrukan
b. Kebakaran/ledakan
c. Kandas
d. Kebocoran/tenggelam
e. Orang jatuh ke laut
f. Pencemaran.

Keadaan darurat di kapal dapat merugikan Nakhoda dan anak buah kapal serta pemilik kapal maupun Iingkungan taut bahkan juga dapat menyebabkan terganggunya ‘ekosistem’ dasar taut, sehingga perlu untuk memahami kondisi keadaan darurat itu sebaik mungkin guna memiliki kemampuan dasar untuk dapat mengindentifikasi tanda-tanda keadaan darurat agar situasi tersebut dapat diatasi oleh Nakhoda dan anak buah kapal maupun kerjasama dengan pihak yang terkait.

1) Tubrukan
Keadaan darurat karena tubrukan kapal dengan kapal atau kapal dengan dermaga maupun dengan benda tertentu akan mungkin terdapat situasi kerusakan pada kapal, korban manusia, tumpahan minyak ke laut (kapal tangki), pencemaran dan kebakaran. Situasi Iainnya adalah kepanikan atau ketakutan petugas di kapal yang justru memperlambat tindakan, pengamanan, penyelamatan dan penanggulangan keadaan darurat tersebut.

2) Kebakaran / ledakan
Kebakaran di kapal dapat terjadi di berbagai lokasi yang rawan terhadap kebakaran, misalnya di kamar mesin, ruang muatan, gudang penyimpanan perlengkapan kapal, . instalasi listrik dan tempat akomodasi Nakhoda dan anak buah kapal.

Sedangkan ledakan dapat terjadi karena kebakaran atau sebaliknya kebakaran terjadi karena ledakan, yang pasti kedua-duanya dapat menimbulkan situasi darurat serta perlu untuk diatasi.

Keadaan darurat pada situasi kebakaran dan ledakan tentu sangat berbeda dengan keadaan darurat karena tubrukan, sebab pada situasi yang demikian terdapat kondisi yang panas dan ruang gerak terbatas dan kadang-kadang kepanikan atau ketidaksiapan petugas untuk bertindak mengatasi keadaan maupun peralatan yang digunakan sudah tidak layak atau tempat penyimpanan telah berubah.

3) Kandas
Kapal kandas pada umumnya didahului dengan tanda-tanda putaran baling-baling terasa berat, asap di cerobong mendadak menghitam, badan kapal bergetar dan kecepatan kapal berubah kemudian berhenti mendadak.

Pada saat kapal kandas tidak bergerak, posisi kapal akan sangat tergantung pada permukaan dasar taut atau sungai dan situasi di dalam kapal tentu akan tergantung juga pada keadaan kapal tersebut.

Pada kapal kandas terdapat kemungkinan kapal bocor dan menimbulkan pencemaran atau bahaya tenggelam kalau air yang masuk ke dalam kapal tidak dapat diatasi, sedangkan bahaya kebakaran tentu akan dapat saja terjadi apabila bahan bakar atau minyak terkondisi dengan jaringan listrik yang rusak menimbulkan nyala api dan tidak terdeteksi sehingga menimbulkan kebakaran.

Kemungkinan kecelakaan manusia akibat kapal kandas dapat saja terjadi karena situasi yang tidak terduga atau terjatuh saat terjadi perubahan posisi kapal.

Kapal kandas sifatnya dapat permanen dan dapat pula bersifat sementara tergantung pada posisi permukaan dasar laut atau sungai, ataupun cara mengatasinya sehingga keadaan darurat seperti ini akan membuat situasi di lingkungan kapal akan terjadi rumit.

4) Kebocoran/Tenggelam
Kebocoran pada kapal dapat terjadi karena kapal kandas, tetapi dapat juga terjadi karena tubrukan maupun kebakaran serta kerusakan kulit pelat kapal karena korosi, sehingga kalau tidak segera diatasi kapal akan segera tenggelam.

Air yang masuk dengan cepat sementara kemampuan mengatasi kebocoran terbatas, bahkan kapal menjadi miring membuat situasi sulit diatasi. Keadaan darurat ini akan menjadi rumit apabila pengambilan keputusan dan pelaksanaannya tidak didukung sepenuhnya oleh seluruh anak buah kapal, karena upaya untuk mengatasi keadaan tidak didasarkan pada azas keselamatan dan kebersamaan.

5) Orang jatuh ke laut

Orang jatuh ke laut merupakan salah satu bentuk kecelakaan yang membuat situasi menjadi darurat dalam upaya melakukan penyelamatan.

Pertolongan yang diberikan tidak dengan mudah dilakukan karena akan sangat tergantung pada keadaan cuaca saat itu serta kemampuan yang akan memberi pertolongan, maupun fasilitas yang tersedia.

6) Pencemaran

Pencemaran taut dapat terjadi karena buangan sampah dan tumpahan minyak saat bunkering, buangan limbah muatan kapal tangki, buangan limbah kamar mesin yang melebihi ambang 15 ppm dan karena muatan kapal tangki yang tertumpah akibat tubrukan atau kebocoran.

Upaya untuk mengatasi pencemaran yang terjadi merupakan hal yang sulit karena untuk mengatasi pencemaran yang terjadi memerlukan peralatan, tenaga manusia yang terlatih dan kemungkinan-kemungkinan resiko yang harus ditanggung oleh pihak yang melanggar ketentuan tentang pencegahan pencemaran.

3. DENAH KEADAAN DARURAT

a. Persiapan.

Perencanaan dan persiapan adalah syarat utama untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan keadaan darurat dikapal.
Nahkoda dan para perwira harus menyadari apa yang mereka harus lakukan pada keadaan darurat yang bermacam-macam, misalnya kebakaran di tangki muatan, kamar mesin, kamar A.B.K. dan orang pingsan di dalam tangki, kapal lepas dari dermaga dan Hanyut, cara kapal lepas dermaga dan lain-lain.

Harus dapat secara cepat dan tepat mengambil keputusan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi segala macam keadaan darurat.

Data/info yang selalu harus siap
– Jenis jumlah dan pengaturan muatan.
– Apakah ada cairan kimia yang berbahaya.
– General arrangement dan stabilitas info, serta
– Rencana peralatan pemadam kebakaran.

b. Organisasi keadaan darurat

Suatu organisasi keadaan darurat harus disusun untuk operasi keadaan darurat.

Maksud dan tujuan organisasi bagi setiap situasi adalah untuk :
– Menghidupkan tanda bahaya.
– Menemukan dan menaksir besarnya kejadian dan kemungkinan bahayanya.
– Mengorganisasi tenaga dan peralatan.

Ada empat petunjuk perencanaan yang perlu diikuti :

à Pusat komando.

Kelompok yang mengontrol kegiatan di bawah pimpinan Nahkoda atau perwira senior serta dilengkapi perangkap komunikasi intern dan extern.

à Satuan kesadaran darurat.

Kelompok di bawah perwira senior yang dapat menaksir keadaan, melapor kepusat komando menyarankan tindakan apa yang harus diambil apa dan dari mana bantuan dibutuhkan.

à Satuan pendukung.

Kelompok pendukung ini di bawah seorang perwira harus selalu slap membantu kelompok induk dengan perintah pusat komando dan menyediakan bantuan pendukung seperti peralatan, perbekalan, bantuan medis, termasuk alat bantuan pernapasan dan lain-lain.

à Kelompok ahli mesin.

Kelompok di bawah satuan pendukung Engineer atau Senior Engineer menyediakan bantuan atas perintah pusat komando.
Tanggung jawab utamanya di ruang kamar mesin, dan bisa memberi bantuan bila diperlukan.

c. Tindakan pendahuluan.

Seseorang yang menemukan keadaan darurat harus membunyikan tanda bahaya, laporkan kepada perwira jaga yang kemudian menyiapkan organisasi, sementara itu yang berada dilokasi segera mengambil tindakan untuk mengendalikan keadaan sampai diambil alih oleh organisasi keadaan darurat. Setiap orang harus tahu dimana tempatnya dan apa tugasnya termaksud kelompok pendukung harus stand-by menunggu perintah selanjutnya.

d. Alarm kebakaran kapal.

Pada saat berada di teminal, alarm ini harus diikuti dengan beberapa tiupan panjang dengan waktu antara tidak kurang dari 10 detik.

e. Denah peralatan pemadam kebakaran.

Denah peralatan ini harus dipasang tetap pada tempat yang mudah dilihat disetiap geladak.

f. Pengawasan dan pemeliharaan.

Karena peralatan pemadam kebakaran harus selalu slap untuk dipergunakan setiap saat, maka perlu adanya pengecekan secara periodik dan dilaksanakan oleh perwira yang bertanggung jawab akan pemeliharaan/perbaikan atau pengisian tabung harus tepat waktu.

g. Latihan

Untuk menjaga ketrampilan dan kesiapan anak buah maka harus diadakan latihan balk teori atau praktek secara berkala dan teratur. Bila ada kesempatan untuk mengadakan latihan bersama atau pertemuan pemadaman kebakaran dengan personil darat maka harus diadakan tukar informasi balk mengenai jumlah maupun letak alat pemadam kebakaran guna memperlancar pelaksanaan bila terjadi kebakaran di kapal.

Keuntungan dibuatnya organisasi penanggulangan keadaan darurat, antara lain :

* Tugas dan tanggung jawab tidak terlalu berat, karena dipikul bersama-sama serta berbeda-beda.

* Tugas dan tanggung jawab dapat tertulis dengan jelas dengan demikian dapat mengurangi tindakan-tindakan yang kurang disiplin.

* Hanya ada satu pimpinan (komando), sehingga perintah, instruksi dan lain-lain akan lebih terarah, teratur dan terpadu, terhindar dari kesimpangsiuran.

* Dapat terhindar dari hambatan hirarki formal yang selalu ada dalam perusahaan, karena petugas dari berbagai bidang yang diperlukan semuanya sudah tergabung dalam satu bentuk organisasi.

* Apabila terjadi suatu kegagalan karena melaksanakan tugas yang tertentu, maka hal ini dapat segera dipelajari kembali untuk perbaikan.

* Dengan adanya organisasi keadaan darurat, maka semua individu merasa saling terkait.

4. PENANGGULANGAN KEADAAN DARURAT

Penanggulangan keadaan darurat didasarkan pada suatu pola terpadu yang mampu mengintegrasikan aktivitas atau upaya. Penanggulangan keadaan darurat tersebut secara cepat, tepat dan terkendali atas dukungan dari instansi terkait dan sumber daya manusia serta fasilitas yang tersedia.

Dengan memahami pola penanggulangan keadaan darurat ini dapat diperoleh manfaat :

– Mencegah (menghilangkan) kemungkinan kerusakan akibat meluasnya kejadian darurat itu.
– Memperkecil kerusakan-kerusakan mated dan lingkungan.
– Dapat menguasahi keadaan (Under control).

Untuk menanggulangi keadaan darurat diperlukan beberapa Iangkah mengantisipasi yang terdiri dari :

a. Pendataan

Dalam menghadapi setia keadaan darurat dikenal selalu diputuskan tindakan yang akan dilakukan untuk mengatasi peristiwa tersebut maka perlu dilakukan pendataan sejauh mana keadaan darurat tersebut dapat membahayakan manusia (pelayar), kapal dan lingkungannya serta bagaimana cara mengatasinya disesuaikan dengan sarana dan prasarana yang tersedia.

Langkah-Langkah pendataan
– Tingkat kerusakan kapal
– Gangguan keselamatan kapal (Stabilitas)
– Keselamatan manusia
– Kondisi muatan
– Pengaruh kerusakan pada lingkungan
– Kemungkinan membahayakan terhadap dermaga atau kapal lain.

b. Peralatan

Sarana dan prasarana yang akan digunakan disesuaikan dengan keadaan darurat yang dialami dengan memperhatikan kemampuan kapal dan manusia untuk melepaskan diri dari keadaan darurat tersebut hingga kondisi normal kembali.

Petugas atau anak buah kapal yang terlibat dalam operasi mengatasi keadaan darurat ini seharusnya mampu untuk bekerjasama dengan pihak lain bila mana diperlukan (dermaga, kapal lain/team SAR).

Secara keseluruhan peralatan yang dipergunakan dalam keadaan darurat adalah :

– Breathing Apparatus – Alarm
– Fireman Out Fit – Tandu
– Alat Komunikasi
– dan lain-lain disesuaikan dengan keadaan daruratnya.

c. Mekanisme kerja

Setiap kapal harus mempunyai team-team yang bertugas dalam perencanaan dan pengeterapan dalam mengatasi keadaan darurat. Keadaan-keadaan darurat ini harus meliputi semua aspek dari tindakan-tindakan yang harus diambil pada saat keadaan darurat serta dibicarakan dengan penguasa pelabuhan, pemadam kebakaran, alat negara dan instansi lain yang berkaitan dengan pengarahan tenaga, penyiapan prosedur dan tanggung jawab, organisasi, sistem, komunikasi, pusat pengawasan , inventaris dan detail lokasinya.

Tata cara dan tindakan yang akan diambil antara lain :
– Persiapan, yaitu langkah-langkah persiapan yang diperlukan dalam menangani keadaan darurat tersebut berdasarkan jenis dan kejadiannya.

– Prosedur praktis dari penanganan kejadian yang harus diikuti dari beberapa kegiatan/bagian secara terpadu.

– Organisasi yang solid dengan garis-garis komunikasi dan tanggung jawabnya.

– Pelaksanaan berdasarkan 1, 2, dan 3 secara efektif dan terpadu.

Prosedur di atas harus meliputi segala ma cam keadaan darurat yang ditemui, baik menghadapi kebakaran, kandas, pencemaran, dan lain-lain dan harus dipahami benar oleh pelaksana yang secara teratur dilatih dan dapat dilaksanakan dengan baik.

Keseluruhan kegiatan tersebut di atas merupakan suatu mekanisme kerja yang hendak dengan mudah dapat diikuti oleh setiap manajemen yang ada dikapal, sehingga kegiatan mengatasi keadaan darurat dapat berlangsung secara bertahap tanpa harus menggunakan waktu yang lama, aman, lancar dan tingkat penggunaan biaya yang memadai. untuk itu peran aktif anak buah kapal sangat tergantung pada kemampuan individual untuk memahami mekanisme kerja yang ada, serta dorongan rasa tanggung jawab yang didasari pada prinsip kebersamaan dalam hidup bermasyarakat di kapal.

Mekanisme kerja yang diciptakan dalam situasi darurat tentu sangat berbeda dengan situasi normal, mobilitas yang tinggi selalu mewarnai aktifitas keadaan darurat dengan lingkup kerja yang biasanya tidak dapat dibatasi oleh waktu karena tuntutan keselamatan. Oleh sebab itu loyalitas untuk keselamatan bersama selalu terjadi karena ikatan moral kerja dan dorongan demi kebersamaan.

5. PENGENALAN ISYARAT BAHAYA

Tanda untuk mengingatkan anak buah kapal tentang adanya suatu keadaan darurat atau bahaya adalah dengan kode bahaya.

a. Sesuai peraturan Internasional isyarat-isyarat bahaya dapat digunakan secara umum untuk kapal laut adalah sebagai berikut:
Þ Suatu I isyarat letusan yang diperdengarkan dengan selang waktu kira-kira 1 (satu) menit.

Þ Bunyi yang diperdengarkan secara terus-menerus oleh pesawat pemberi isyarat kabut (smoke signal )

Þ Cerawat – cerawat atau peluru-peluru cahaya yang memancarkan bintang-bintang memerah yang ditembakkan satu demi satu dengan selang waktu yang pendek.

Þ Isyarat yang dibuat oleh radio telegrafi atau sistim pengisyaratan lain yang terdiri atas kelompok SOS dari kode morse.

Þ Isyarat yang dipancarkan dengan menggunakan pesawat radio telepon yang terdiri atas kata yang diucapkan “Mede” (mayday )

Þ Kode isyarat bahaya internasional yang ditujukan dengan NC.

Þ Isyarat yang terdiri atas sehelai bendera segi empat yang di atas atau sesuatu yang menyerupai bola.

Þ Nyala api di kapal (misalnya yang berasal dari sebuah tong minyak dan sebagainya, yang sedang menyala).

Þ Cerawat payung atau cerawat tangan yang memancarkan cahaya merah.

Þ Isyarat asap yang menyebarkan sejumlah asa jingga (orange).

Þ Menaik-turunkan lengan-lengan yang terentang kesamping secara perlahan-lahan dan berulang- ulang.

Þ Isyarat alarm radio telegrafi
Þ Isyarat alarm radio teleponi

Þ Isyarat yang dipancarkan oleh rambu-rambu radio petunjuk posisi darurat.

b. Sesuai dengan kemungkinan terjadinya situasi darurat di kapal, isyarat bahaya yang umumnya dapat terjadi adalah :

1) Isyarat kebakaran

Apabila terjadi kebakaran di atas kapal maka setia orang di atas kapal yang pertama kali melihat adanya kebakaran wajib melaporkan kejadian tersebut pada mualim jaga di anjungan.

Mualim jaga akan terus memantau perkembangan upaya pemadaman kebakaran dan apabila kebakaran tersebut tidak dapat di atasi dengan alat-alat pemadam portable dan dipandang perlu untuk menggunakan peralatan pemadam kebakaran tetap serta membutuhkan peran seluruh anak buah kapal, maka atas keputusan dan perintah Nakhoda isyarat kebakaran wajib dibunyikan dengan kode suling atau bel satu pendek dan satu panjang secara terus menerus seperti berikut :

. _____________ . ___________ . _________ . __________

Setiap anak buah kapal yang mendengar isyarat kebakaran wajib melaksanakan tugasnya sesuai dengan perannya pada sijil kebakaran dan segera menuju ke tempat tugasnya untuk menunggu perintah lebih lanjut dari komandan regu pemadam kebakaran.

2) Isyarat sekoci / meninggalkan kapal

Dalam keadaan darurat yang menghendaki Nakhoda dan seluruh anak buah kapal harus meninggalkan kapal maka kode isyarat yang dibunyikan adalah melalui bel atau suling kapal sebanyak 7 (tujuh) pendek dan satu panjang secara terus menerus seperti berikut :

……. ___________ ……. _________ ……. __________

3) Isyarat orang jatuh ke taut

Dalam pelayaran sebuah kapal dapat saja terjadi orang jatuh ke laut, bila seorang awak kapal melihat orang jatuh ke laut, maka tindakan yang harus dilakukan adalah :

• Berteriak “Orang jatuh ke laut”
• Melempar pelampung penolong (lifebuoy)
• Melapor ke Mualim jaga.

Selanjutnya Mualim jaga yang menerima laporan adanya orang jatuh ke laut dapat melakukan manouver kapal untuk berputar mengikuti ketentuan “Willemson Turn” atau “Carnoevan turn” untuk melakukan pertolongan.

Bila ternyata korban tidak dapat ditolong maka kapal yang bersangkutan wajib menaikkan bendera internasional huruf “O”.

4) Isyarat Bahaya lainnya

Dalam hal-hal tertentu bila terjadi kecelakaan atau keadaan darurat yang sangat mendesak dengan pertimbangan bahwa bantuan pertolongan dari pihak lain sangat dibutuhkan maka setiap awak kapal wajib segera memberikan tanda perhatian dengan membunyikan bel atau benda lainnya maupun berteriak untuk meminta pertolongan.

Tindakan ini dimaksud agar mendapat bantuan secepatnya sehingga korban dapat segera ditolong dan untuk mencegah timbulnya korban yang lain atau kecelakaan maupun bahaya yang sedang terjadi tidak meluas.

Dalam keadaan bahaya atau darurat maka peralatan yang dapat digunakan adalah peralatan atau mesin-mesin maupun pesawat-pesawat yang mampu beroperasi dalam keadaan tersebut.

Sebuah kapal didesain dengan memperhitungkan dapat beroperasi pada kondisi normal dan kondisi darurat.

Oleh sebab itu pada kapal dilengkapi juga dengan mesin atau pesawat yang mampu beroperasi pada kondisi darurat.

Adapun mesin-mesin atau pesawat-pesawat yang dapat beroperasi pada keadaan darurat terdiri dari :

* Emergency steering gear
* Emergency generator
* Emergency radio communication
* Emergency fire pump
* Emergency ladder
* Emergency buoy
* Emergency escape trunk
* Emergency alarm di kamar pendingin, cargo space, engine room space, accomodation space

Setiap mesin atau pesawat tersebut di atas telah ditetapkan berdasarkan ketentuan SOLAS 1974 tentang penataan dan kapasitas atau kemampuan operasi.

Sebagai contoh Emergency Fire Pump (pompa pemadam darurat) berdasarkan ketentuan wajib dipasang di luar kamar mesin dan mempunyai tekanan kerja antara 3 – 5 kilogram per sentimeter persegi dan digerakkan oleh tenaga penggerak tersendiri. Sehingga dalam keadaan darurat bila pompa pemadam utama tidak dapat beroperasi, maka alternatif lain hanya dapat menggunakan pompa pemadam darurat dengan aman di luar kamar mesin.

6. TINDAKAN DALAM KEADAAN DARURAT

a. Sijil bahaya atau darurat

Dalam keadaan darurat atau bahaya setia awak kapal wajib bertindak sesuai ketentuan sijil darurat, oleh sebab itu sijil darurat senantiasa dibuat dan diinformasikan pada seluruh awak kapal.

Sijil darurat di kapal perlu di gantungkan di tempat yang strategis, sesuai, mudah dicapai, mudah dilihat dan mudah dibaca oleh seluruh pelayar dan memberikan perincian prosedur dalam keadaan darurat, seperti :

1) Tugas-tugas khusus yang harus ditanggulangi di dalam keadaan darurat oleh setiap anak buah kapal.

2) Sijil darurat selain menunjukkan tugas-tugas khusus, juga tempat berkumpul (kemana setiap awak kapal harus pergi).

3) Sijil darurat bagi setiap penumpang harus dibuat dalam bentuk yang ditetapkan oleh pemerintah.

4) Sebelum kapal berangkat, sijil darurat harus sudah dibuat dan salinannya digantungkan di beberapa tempat yang strategis di kapal, terutama di ruang ABK.

5) Di dalam sijil darurat juga diberikan pembagian tugas yang berlainan bagi setiap ABK, misalnya:

– Menutup pintu kedap air, katup-katup, bagian mekanis dari lubang-lubang pembuangan air di kapal d1l,
– Perlengkapan sekoci penolong termasuk perangkat radio jinjing maupun perlengkapan Iainnya.
– Menurunkan sekoci penolong.
– Persiapan umum alat-alat penolong / penyelamat lainnya.
– Tempat berkumpul dalam keadaan darurat bagi penumpang.
– Alat-alat pemadam kebakaran termasuk panel kontrol kebakaran.

6) Selain itu di dalam sijil darurat disebutkan tugas-tugas khusus yang dikerjakan oleh anak buah kapal bagian CID (koki, pelayan d1l), seperti :

– Memberikan peringatan kepada penumpang.

– Memperhatikan apakah mereka memakai rompi renang mereka secara semestinya atau tidak.

– Mengumpulkan para penumpang di tempat berkumpul darurat.

– Mengawasi gerakan dari para penumpang dan memberikan petunjuk di gang-gang atau di tangga.

– Memastikan bahwa persediaan selimut telah dibawa sekoci / rakit penolong.

7) Dalam hal yang menyangkut pemadaman kebakaran, sijil darurat memberikan petunjuk cara-cara yang biasanya dikerjakan dalam terjadi kebakaran, serta tugas-tugas khusus yang harus dilaksanakan dalam hubungan dengan operasi pemadaman, peralatan-peralatan dan instalasi pemadam kebakaran di kapal.

8) Sijil darurat harus membedakan secara khusus semboyan-semboyan panggilan bagi ASK untuk berkumpul di sekoci penolong mereka masing-masing, di rakit penolong atau di tempat berkumpul untuk memadamkan kebakaran. Semboyan-semboyan tersebut diberikan dengan menggunakan ruling kapal atau sirine, kecuali di kapal penumpang untuk pelayaran internasional jarak pendek dan di kapal barang yang panjangnya kurang dari 150 kaki (45,7m), yang harus dilengkapi dengan semboyan¬-semboyan yang dijalankan secara elektronis, semua semboyan ini dibunyikan dan anjungan.

Semboyan untuk berkumpul dalam keadaan darurat terdiri dari 7 atau lebih tiup pendek yang diikuti dengan 1 tiup panjang dengan menggunakan suling kapal atau sirine dan sebagai tambahan semboyan ini, boleh dilengkapi dengan bunyi bel atau gong secara terus menerus.

Jika semboyan ini berbunyi, itu berarti semua orang di atas kapal harus mengenakan pakaian hangat dan baju renang dan menuju ke tempat darurat mereka. ABK melakukan tugas tempat darurat mereka. Sesuai dengan apa yang tertera di dalam sijil darurat dan selanjutnya menunggu perintah.

Setia juru mudi dan anak buah sekoci menuju ke sekoci dan mengerjakan :

* Membuka tutup sekoci, lipat dan masukkan ke dalam sekoci (sekoci-sekoci kapal modern sekarang ini sudah tidak memakai tutup lagi tetapi dibiarkan terbuka).

* Dua orang di dalam sekoci masing-masing seorang di depan untuk memasang tali penahan sekoci yang berpasak (cakil) dan seorang yang dibelakang untuk memasang pro sekoci.
* Tali penahan yang berpasak tersebut dipasang sejauh mungkin ke depan tetapi sebelah dalam dari lapor sekoci dan disebelah luar tali-tali lainnya, lalu dikencangkan.

* Memeriksa apakah semua awak kapal dan penumpang telah memakai rompi renang dengan benar/tidak.

* Selanjutnya siap menunggu perintah.

Untuk mampu bertindak dalam situasi darurat maka setiap awak kapal harus mengetahui dan terampil menggunakan perlengkapan keselamatan jiwa di laut dan mampu menggunakan sekoci dan peralatannya maupun cakap menggunakan peralatan pemadam kebakaran.

Adapun perlengkapan keselamatan jiwa di taut meliputi:

a) Life saving appliances
– Life boat
– Life jacket
– Life raft
– Bouyant apparatus
– Life buoy
– Line throwing gun
– Life line
– Emergency signal (parachute signal, red hand flare, orange smoke signal)

b) Fire fighting equipment
– Emergency fire pump, fire hidrants
– Hose & nozzles
– Fire extinguishers (fixed and portable)
– Smoke detector and fire detector system
– C02 Installation
– Sprinkler system (Automatic water spray)
– Axes and crow bars
– Fireman outfits and breathing apparatus
– Sand in boxes.

Sedangkan latihan sekoci dan pemadam kebakaran secara individual dimaksudkan untuk menguasai bahkan memiliki segala aspek yang menyangkut karakteristik daripada penggunaan pesawat-pesawat penyelamat dan pemadam kebakaran yang meliputi pengetahuan dan keterampilan tentang :

1) Boat drill
– Alarm signal meninggalkan kapal (abandon ship)
– Lokasi penempatan life jacket dan cara pemakaian oleh awak kapal dan penumpang

– Kesiapan perlengkapan sekoci
– Pembagian tugas awak kapal disetia sekoci terdiri dari komandan dan wakil komandan, juru motor, juru mudi, membuka lashing dan penutup sekoci, memasang tali air / keliti tiller / tali monyet / prop, membawa selimut / sekoci / logbook / kotak P3K / mengarea sekoci l melepas ganco / tangga darurat / menolong penumpang.

2) Fire drill
– Alarm signal kebakaran di kapal
– Pembagian tugas awak kapal terdiri dari :
Pemimpin pemadam, membawa slang, botol api, kapak, linggis, pasir, fireman outfit, sedangkan perwira jaga, juru mudi jaga di anjungan, menutup pintu dan jendela kedap air, membawa log book, instalasi C02, menjalankan pompa pemadam kebakaran, alat P3K.

b. Tata Cara Khusus Dalam Prosedur Keadaan Darurat

1) Kejadian Tubrukan (Imminent collision)

a) Bunyikan sirine bahaya (Emergency alarm sounded)

b) Menggerakkan kapal sedemikian rupa untuk mengurangi pengaruh tubrukan

c) Pintu-pintu kedap air dan pintu-pintu kebakaran otomatis di tutup

d) Lampu-lampu dek dinyalakan

e) Nakhoda diberi tahu

f) Kamar mesin diberi tahu

g) VHF dipindah ke chanel 16

h) Awak kapal dan penumpang dikumpulkan di stasiun darurat

i) Posisi kapal tersedia di ruangan radio dan diperbaharui bila ada perubahan.

j) Setelah tubrukan got-got dan tangki-tangki di ukur.

2) Kandas, Terdampar (Stranding)

a) Stop mesin

b) Bunyikan sirine bahaya

c) Pintu-pintu kedap air di tutup

d) Nakhoda diberi tahu

e) Kamar mesin diberi tahu

f) VHF di pindah ke chanel 16

g) Tanda-tanda bunyi kapal kandas dibunyikan

h) Lampu dan sosok-sosok benda diperlihatkan

i) Lampu dek dinyalakan

j) Got-got dan tangki-tangki diukur/sounding

k) Kedalaman laut disekitar kapal diukur.

l) Posisi kapal tersedia di kamar radio dan diperbaharui bila ada perubahan.

3) Kebakaran/Fire

a) Sirine bahaya dibunyikan (internal clan eksternal)

b) Regu-regu pemadam kebakaran yang bersangkutan siap dan mengetahui lokasi kebakaran.

c) Ventilasi, pintu-pintu kebakaran otomatis, pintu-pintu kedap air di tutup.

d) Lampu-lampu di dek dinyalakan

e) Nakhoda diberi tahu

f) Kamar mesin diberi tahu

g) Posisi kapal tersedia di kamar radio dan diperbaharui bila ada perubahan

4) Air masuk ke dalam ruangan (Flooding)

a) Sirine bahaya dibunyikan (internal dan eksternal)

b) Siap-siap dalam keadaan darurat

c) Pintu-pintu kedap air di tutup

d) Nakhoda diberi tahu

e) Kamar mesin diberi tahu

f) Posisi kapal tersedia di kamar radio dan diperbaharui bila ada perubahan

5) Berkumpul di sekoci/rakit penolong (meninggalkan kapal)

a) Sirine tanda berkumpul di sekoci/rakit penolong untuk meninggalkan kapal, misalnya kapal akan tenggelam yang dibunyikan atas perintah Nakhoda

b) Awak kapal berkumpul di sekoci/rakit penolong

6) Orang jatuh ke laut (Man overboard)

a) Lemparkan pelampung yang sudah dilengkapi dengan lampu apung dan asap sedekat orang yang jatuh
b) Usahakan orang yang jatuh terhindar dari benturan kapal dan baling-baling

c) Posisi dan letak pelampung diamati

d) Mengatur gerak untuk menolong (bile tempat untuk mengatur gerak cukup disarankan menggunakan metode “Williamson” Turn)

e) Tugaskan seseorang untuk mengawasi orang yang jatuh agar tetap terlihat

f) Bunyikan tiga suling panjang dan diulang sesuai kebutuhan

g) Regu penolong slap di sekoci

h) Nakhoda diberi tahu

i) Kamar mesin diberi tahu

j) Letak atau posisi kapal relatif terhadap orang yang jatuh di plot Posisi kapal tersedia di kamar radio dan diperbaharui bila ada perubahan

7) Pencarian dan Penyelamatan (Search and Rescue)

a) Mengambil pesan bahaya dengan menggunakan radio pencari arah

b) Pesan bahaya atau S.O.S dipancarkan ulang

c) Mendengarkan poly semua frekwensi bahaya secara terus menerus

d) Mempelajari buku petunjuk terbitan SAR (MERSAR)

e) Mengadakan hubungan antar SAR laut dengan SAR udara pada frekwensi 2182 K dan atau chanel 16

f) Posisi, haluan dan kecepatan penolong yang lain di plot

c. Latihan-latihan bahaya atau darurat

1) Di kapal penumpang latihan-latihan sekoci dan kebakaran harus dilaksanakan 1 kali seminggu jika mungkin. Latihan-latihan tersebut di atas juga harus dilakukan bila meninggalkan suatu. pelabuhan terakhir untuk pelayaran internasional jarak jauh.

2) Di kapal barang latihan sekoci dan latihan kebakaran harus dilakukan 1 x sebulan. Latihan-latihan tersebut di atas harus juga dilakukan dalam jangka waktu 24 jam setelah meninggalkan suatu pelabuhan, dimana ABK telah diganti Iebih dari 25 %.

3) Latihan-latihan tersebut di atas harus dicatat dalam log book kapal dan bila dalam jangka waktu 1 minggu (kapal penumpang) atau 1 bulan (kapal barang) tidak diadakan latihan-latihan, maka harus dicatat dalam log book dengan alasan-alasannya.

4) Di kapal penumpang pada pelayaran internasional jarak jauh dalam waktu 24 jam setelah meninggalkan pelabuhan harus diadakan latihan-latihan untuk penanggulangan.

5) Sekoci-sekoci penolong dalam kelompok penanggulangan harus digunakan secara bergilir pada latihan-latihan tersebut dan bila mungkin diturunkan ke air dalam jangka waktu 4 bulan. Latihan-latihan tersebut harus dilakukan sedemikian rupa sehingga awak kapal memahami dan memperoleh pengalaman-pengalaman dalam melakukan tugasnya masing-masing termasuk instruksi-instruksi tentang melayani rakit-rakit penolong.

6) Semboyan bahaya untuk penumpang-penumpang supaya berkumpul di stasion masing-masing, harus terdiri dari 7 atau lebih tiupan pendek disusul dengan tiupan panjang pada suling kapal dengan cara berturut-turut. Di kapal penumpang pada pelayaran internasional jarak jauh harus ditambah dengan semboyan-semboyan yang dilakukan secara elektris.\

Maksud dari semua semboyan-semboyan yang berhubungan dengan penumpang-penumpang dan lain-lain instruksi, harus dinyatakan dengan jelas di atas kartu-kartu dengan bahasa yang bisa dimengerti (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris) dan dipasang dalam kamar-kamar penumpang dan lain-lain ruangan untuk penumpang.

7. LINTAS-LINTAS PENYELAMATAN DIRI

a. Mengetahui Lintas Penyelamatan Did (Escape Routes)

Di dalam keadaan darurat dimana kepanikan sering terjadi maka kadang-kadang untuk mencapai suatu tempat, misalnya secoci sering mengalami kesulitan. Untuk itu para pelayar terutama awak kapal harus mengenal/ mengetahui dengan lintas penyelamatan diri (escape routes), komunikasi di dalam kapal itu sendiri dan sistem alarmnya.

Untuk itu sesuai ketentuan SOLAS 1974 BAB 11-2 tentang konstruksi-perlindungan penemuan dan pemadam kebakaran dalam peraturan 53 dipersyaratkan untuk di dalam dan dari semua ruang awak kapal dan penumpang dan ruangan-ruangan yang biasa oleh awak kapal untuk bertugas, selain terdapat tangga-tangga di ruangan permesinan harus ditata sedemikian rupa tersedianya tangga yang menuju atau keluar dari daerah tersebut secara darurat.

Di kapal lintas-lintas penyelamatan diri secara darurat atau escape router dapat ditemui pada tempat-tempat tertentu seperti:

1) Kamar mesin

Adanya lintas darurat menuju ke geladak kapal melalui terowongan poros baling-baling yang sepanjang lintasan tersebut didahului oleh tulisan “Emergency Exit” dan disusul dengan tanda panah atau simbol orang berlari.

2) Ruang akomodasi

Pada ruangan akomodasi, khususnya pada ruangan rekreasi ataupun ruangan makan awak kapal atau daerah tempat berkumpulnya awak kapal dalam ruangan tertentu selalu dilengkapi dengan pintu darurat atau jendela darurat yang bertuliskan “Emergency Exit”.

Setiap awak kapal wajib mengetahui dan terampil menggunakan jalan-jalan atau lintas-lintas darurat tersebut sehingga dalam kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan digunakannya lalulintas umum yang tersedia maka demi keselamatan lintas darurat tersebut dapat dimanfaatkan.

Disamping itu semua awak kapal demi keselamatannya wajib memperhatikan tanda-tanda gambar yang menuntun setiap orang untuk menuju atau memasuki maupun melewati laluan ataupun lorong darurat pada saat keadaan darurat, kelalaian atau keteledoran hanya akan menyebabkan kerugian bagi diri sendiri bahkan melibatkan orang lain.

Tanda / sign

Jalan menuju pintu darurat (emergency exit) ditandai dengan panah berwarna putih dengan papan dasar berwarna hijau. Pada kapal penumpang dari ruang penumpang dan ruang awak kapal pasti tersedia tangga / jalan yang menuju embarkasi dek sekoci penolong dan rakit penolong. Bila ruang tersebut berada di bawah sekat dek (bulkhead deck) tersedia dua lintas penyelamatan diri dari ruang bawah air salah satunya harus bebas dari pintu kedap air. Bila ruang tersebut berada di atas sekat dek dari zona tengah utama (main vertical zone) harus tersedia minimal dua lintas penyelamatan diri. Dari kamar mesin akan tersedia dua lintas penyelamatan diri yang terbuat dari tangga baja yang terpisah satu dengan yang lainnya.

b. Komunikasi Intern dan Sistem Alarm

Dalam keadaan darurat sangatlah diperlukan komunikasi dan sistem alarm yang efisien. Untuk itu digunakan sebagai komunikasi darurat dalam meninggalkan kapal adalah isyarat bunyi (suara) dari lonceng atau sirine atau juga dapat dengan mulut. Sebagai isyarat yang digunakannya adalah tujuh bunyi pendek atau lebih disusul dengan satu bunyi panjang dari suling/sirine atau bell listrik.

Alarm keadaan darurat lainnya seperti

Kebakaran, orang jatuh ke laut dan yang lainnya tidak diatur secara nasional, untuk itu biasanya tiap-tiap perusahaan menciptakan sendiri.

By catatandedi

SEBUAH CATATANKU UNTUKMU IBU

Gambar

SEBUAH CATATAN UNTUK IBU

 

Tiba – tiba saya mengingat ibu, ibu saya yang sedang berada di rumah ku nan jauh dari tempat saya menimba ilmu. Biasanya, setelah magrib seperti ini, ibu sudah memegang al-Qur’an dan membacanya. Setelah itu tentu banyak hal yang dilakukannya lagi. Bercengkrama dengan ayah, memberikan motivasi kepada kami anak nya ini, apa lagi kepada adek saya satu – satunya yang ada di rumah sekarang ini…

           Bagi saya, ibu itu adalah manusia yang paling pertama saya cintai, yang telah melahirkanku, mearawatku, membesarkanku, mendidikku, hingga diriku telah dewasa seperti

              saat ini, dan bahkan di dalam hadits rasulullah saw juga di sebutkan (riwayat Abu Hurairah dalam Shahih Muslim), bahwasanya orang yang patut di cintai adalah ibu, dan bahkan Rasul menyebutkan ibu hingga tiga kali barulah setelah itu ayah, namun juga karena selama hidup ini saya banyak merasakan kehangatan kasih sayang ibu yang nilainya tak terhingga.

           Ibu adalah wanita yang penuh perhatian, bila aku sakit, bila aku terjatuh, bila aku menangis, bila aku kesepian. Ya Allah, rendahkan lah suaraku kepada mereka, perindahlah ucapan ku di ddepan mereka, lunakkanlah watakku terhadap mereka, dan lembutkan hatiku terhadap mereka. Betapa beruntungnya aku lahir dari rahim mu ibu, di besarkan dan di jaga olehmu, jika bukan karenamu, mungkin aku tidak akan mungkin saya berdiri tegar disini sampai saat ini.

           Tak pernah sedikit pun terdengar di telinga ku bahwa kau mengeluh, padahal aku nakal akan semua perbuatan ku selama ini. Ku merajuk dengan semua keinginan ku yang tidak bisa kau sanggupi untukku, dan ku marah jika tidak terpenuhi apa yang ku mau. Ku rindu akan nada sendu  syair irama suaramu ayah dan ibu yang begitu merdu. Ingin ku tunjukkan rasa rinduku terhada mu yang begitu menggebuh – gebuh.

           Ya rob, ku bersyukur padamu bahwa engkau telah menciptakan orangtua seperti mereka pada kusebagai tempat utama berbagi hati ini di kala gundah. Ku ingin membahagiakannya hingga akhir menutup mata. Ku ingin membahagiakannya hingga akhir senyum terakhirnya.

           Alasan anak yang paling banyak di rasakan hingga ia begitu cinta kepada ibunya mungkin adalah karena perjuangan Ibulah yang melahirkannya ke dunia ini. Hukum alam tetap menyatakan bahwa ibulah yang mengeluarkan anak tersebut dari dalam rahimnya (lihat QS. 16: 78), yaitu aku ini anak mu. Dan proses melahirkan tersebut yang membuat saya tak pernah berpikir untuk berpaling dari kasih sayang ibu.

           Kenapa? Karena beberapa bulan yang lalu saya pergi ke rumah sakit untuk menjamu saudara saya yang sedang melahirkan, selama kurang dari 24 jam saya masih sempat menyaksikan berbagai kejadian yang begitu membuat hati saya miris. Di sana, yang tentunya di rumah sakit itu ada seorang ibu yang sedang mengandung bayinya di dalam perutnya, yang ternyata bayi tersebut tidak bernyawa lagidi dalam perut si Ibu tersebut. Setelah bayi tersebut berhasil di keluarkan dari perut sang Ibu melalui proses yang mengerikan dan bahkan sangat menjijikkan, ibu tersebut dalam kondisi yang tidak stabil. Hanya beberapa jam, penyelamatan sang ibu pun akhirnya gagal, saya dan saudara saya masih sempat melihat langsung ibu tersebut dalam keadaan kritis hingga hingga akhirnya meregang nyawanya. Dan ada seorang  ibu yang begitu bahagia karena bayinya berhasil di selamatkan, padahal, sang dokter sudah memvonis, hanya ada satu orang saja yang dapat di selamatkan untuk hidup.

           Selain alasan tersebut, tentu masih banyak sekali hal – hal yang membuat saya sangat menyayangi ibu. Perhatiannya terwujud dalam setiap helaan nafas dan  tak lekang oleh masa yang terus berjalan. Setidaknya yang saya rasakan hingga saya dewasa skarang ini. Dulu, ibu yang sering membangunkan saya untuk pergi ke sekolah, yang kini saya hanya sendiri akan terus mandiri, ibu tempat saya berkeluh kesah tanpa rasa takut, dan ibu adalah penasehat bagi saya untuk mengarah ke jalan hidup saya nantinya.

           Saya tidak katakan bahwa saya adalah anak yang berbakti. Bagaiman pun juga, saya rasa seluruh pertaruhan nyawa ibu dan dedikasi hidupnya untuk saya dan keluarga saya, adek2 saya, tak pernah terjual dan terbeli. Itu semua tak tergantikan dengan apa yang saya beri, baik ia meteri, maupun kasih sayang saya.

           Hanya do’a ku yang bisa ku persembahkan padamu, karena jasa – jasa mu tiada terbalas. Ayah dan ibu, terima kasih, terima kasih dan trima kasih atas semua yang telah kalian berikan padaku, dan katas kesabaran mu selama ini, pengorbanan mu untukku, pemeliharaanmu terhadap saya hingga saya dewasa seperti sekarang ini, TUHAN, terima kasih engkau telah memberikan ibu dan ayah yang baik terhadap ku.

           Demikinlah yang saya pernah jalani dalam sebuah perjuangan yang saat itu saya rasa begitu getir. Perjuangan yang setelah itu saya yakini sebagai perjuangan ibu, ayah, saya, dan kakak saya. Ujian dalam keluarga berputar – putar menjadi sebuah alur yang sangat rumit. Hingga, saya ingat betul denga apa pesan  ayah bahwasanya tempat pengharapan terbesar yang dapat menyelamatkan kita secara nyata hanyalah Allah SWT Sang Maha Pencipta seluruh jiwa manusia. Dengan memegang al-Qur’an sebagai pegangan keluarga. Saya ingat betul itu !!  ujian pun berangsur – angsur memulih atas kerja sama masing – masing dari kita dengan dengan sebuah kekuatan. Kekuatan yang di bangun atas dasar cinta dan ajaran agama.

By catatandedi

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

By catatandedi