SEBUAH CATATANKU UNTUKMU IBU

Gambar

SEBUAH CATATAN UNTUK IBU

 

Tiba – tiba saya mengingat ibu, ibu saya yang sedang berada di rumah ku nan jauh dari tempat saya menimba ilmu. Biasanya, setelah magrib seperti ini, ibu sudah memegang al-Qur’an dan membacanya. Setelah itu tentu banyak hal yang dilakukannya lagi. Bercengkrama dengan ayah, memberikan motivasi kepada kami anak nya ini, apa lagi kepada adek saya satu – satunya yang ada di rumah sekarang ini…

           Bagi saya, ibu itu adalah manusia yang paling pertama saya cintai, yang telah melahirkanku, mearawatku, membesarkanku, mendidikku, hingga diriku telah dewasa seperti

              saat ini, dan bahkan di dalam hadits rasulullah saw juga di sebutkan (riwayat Abu Hurairah dalam Shahih Muslim), bahwasanya orang yang patut di cintai adalah ibu, dan bahkan Rasul menyebutkan ibu hingga tiga kali barulah setelah itu ayah, namun juga karena selama hidup ini saya banyak merasakan kehangatan kasih sayang ibu yang nilainya tak terhingga.

           Ibu adalah wanita yang penuh perhatian, bila aku sakit, bila aku terjatuh, bila aku menangis, bila aku kesepian. Ya Allah, rendahkan lah suaraku kepada mereka, perindahlah ucapan ku di ddepan mereka, lunakkanlah watakku terhadap mereka, dan lembutkan hatiku terhadap mereka. Betapa beruntungnya aku lahir dari rahim mu ibu, di besarkan dan di jaga olehmu, jika bukan karenamu, mungkin aku tidak akan mungkin saya berdiri tegar disini sampai saat ini.

           Tak pernah sedikit pun terdengar di telinga ku bahwa kau mengeluh, padahal aku nakal akan semua perbuatan ku selama ini. Ku merajuk dengan semua keinginan ku yang tidak bisa kau sanggupi untukku, dan ku marah jika tidak terpenuhi apa yang ku mau. Ku rindu akan nada sendu  syair irama suaramu ayah dan ibu yang begitu merdu. Ingin ku tunjukkan rasa rinduku terhada mu yang begitu menggebuh – gebuh.

           Ya rob, ku bersyukur padamu bahwa engkau telah menciptakan orangtua seperti mereka pada kusebagai tempat utama berbagi hati ini di kala gundah. Ku ingin membahagiakannya hingga akhir menutup mata. Ku ingin membahagiakannya hingga akhir senyum terakhirnya.

           Alasan anak yang paling banyak di rasakan hingga ia begitu cinta kepada ibunya mungkin adalah karena perjuangan Ibulah yang melahirkannya ke dunia ini. Hukum alam tetap menyatakan bahwa ibulah yang mengeluarkan anak tersebut dari dalam rahimnya (lihat QS. 16: 78), yaitu aku ini anak mu. Dan proses melahirkan tersebut yang membuat saya tak pernah berpikir untuk berpaling dari kasih sayang ibu.

           Kenapa? Karena beberapa bulan yang lalu saya pergi ke rumah sakit untuk menjamu saudara saya yang sedang melahirkan, selama kurang dari 24 jam saya masih sempat menyaksikan berbagai kejadian yang begitu membuat hati saya miris. Di sana, yang tentunya di rumah sakit itu ada seorang ibu yang sedang mengandung bayinya di dalam perutnya, yang ternyata bayi tersebut tidak bernyawa lagidi dalam perut si Ibu tersebut. Setelah bayi tersebut berhasil di keluarkan dari perut sang Ibu melalui proses yang mengerikan dan bahkan sangat menjijikkan, ibu tersebut dalam kondisi yang tidak stabil. Hanya beberapa jam, penyelamatan sang ibu pun akhirnya gagal, saya dan saudara saya masih sempat melihat langsung ibu tersebut dalam keadaan kritis hingga hingga akhirnya meregang nyawanya. Dan ada seorang  ibu yang begitu bahagia karena bayinya berhasil di selamatkan, padahal, sang dokter sudah memvonis, hanya ada satu orang saja yang dapat di selamatkan untuk hidup.

           Selain alasan tersebut, tentu masih banyak sekali hal – hal yang membuat saya sangat menyayangi ibu. Perhatiannya terwujud dalam setiap helaan nafas dan  tak lekang oleh masa yang terus berjalan. Setidaknya yang saya rasakan hingga saya dewasa skarang ini. Dulu, ibu yang sering membangunkan saya untuk pergi ke sekolah, yang kini saya hanya sendiri akan terus mandiri, ibu tempat saya berkeluh kesah tanpa rasa takut, dan ibu adalah penasehat bagi saya untuk mengarah ke jalan hidup saya nantinya.

           Saya tidak katakan bahwa saya adalah anak yang berbakti. Bagaiman pun juga, saya rasa seluruh pertaruhan nyawa ibu dan dedikasi hidupnya untuk saya dan keluarga saya, adek2 saya, tak pernah terjual dan terbeli. Itu semua tak tergantikan dengan apa yang saya beri, baik ia meteri, maupun kasih sayang saya.

           Hanya do’a ku yang bisa ku persembahkan padamu, karena jasa – jasa mu tiada terbalas. Ayah dan ibu, terima kasih, terima kasih dan trima kasih atas semua yang telah kalian berikan padaku, dan katas kesabaran mu selama ini, pengorbanan mu untukku, pemeliharaanmu terhadap saya hingga saya dewasa seperti sekarang ini, TUHAN, terima kasih engkau telah memberikan ibu dan ayah yang baik terhadap ku.

           Demikinlah yang saya pernah jalani dalam sebuah perjuangan yang saat itu saya rasa begitu getir. Perjuangan yang setelah itu saya yakini sebagai perjuangan ibu, ayah, saya, dan kakak saya. Ujian dalam keluarga berputar – putar menjadi sebuah alur yang sangat rumit. Hingga, saya ingat betul denga apa pesan  ayah bahwasanya tempat pengharapan terbesar yang dapat menyelamatkan kita secara nyata hanyalah Allah SWT Sang Maha Pencipta seluruh jiwa manusia. Dengan memegang al-Qur’an sebagai pegangan keluarga. Saya ingat betul itu !!  ujian pun berangsur – angsur memulih atas kerja sama masing – masing dari kita dengan dengan sebuah kekuatan. Kekuatan yang di bangun atas dasar cinta dan ajaran agama.

By catatandedi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s